Jumat, 21 September 2018

Diintai Satpol PP, Pedagang Asongan Tetap Berkeliaran di GBK

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Satpol PP mengangkut paksa gerobak pedagang kaki lima (PKL) yang masih berjualan di trotoar sekitar Kota Tua, Jakarta Barat, Selasa, 17 Juli 2018. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus membersihkan PKL, yang masih berjualan di kawasan Kota Tua menjelang perhelatan Asian Games 2018. TEMPO/Fakhri Hermansyah

    Petugas Satpol PP mengangkut paksa gerobak pedagang kaki lima (PKL) yang masih berjualan di trotoar sekitar Kota Tua, Jakarta Barat, Selasa, 17 Juli 2018. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus membersihkan PKL, yang masih berjualan di kawasan Kota Tua menjelang perhelatan Asian Games 2018. TEMPO/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Penjual asongan masih berkeliaran di dekat ticket box Asian Games 2018 kompleks Gelora Bung Karno (GBK), kendati kerap diburu oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Mereka mengaku tidak takut meski kerap tertangkap Satpol PP.

    Baca: Kata Satpol PP Soal Little Tokyo Sepi Pasca Atlet Jepang Sewa PSK

    Seorang pedagang asongan yang mengaku bernama Mamat mengatakan ia beberapa kali tertangkap oleh Satpol PP. Mamat adalah pedagang stiker bendera Indonesia.

    Kala itu ia hanya mendapat peringatan. Namun Satpol PP mengancam akan menyita barang dagangannya jika berdagang lagi di area Asian Games 2018.

    "Saya sudah pernah (tertangkap). Katanya, kalau sekali lagi saya jualan, diambil dagangannya. Data diri saya juga diminta," ucap Mamat, Selasa 28 Agustus 2018.

    Walau begitu, ia mengaku tidak begitu takut dengan ancaman tersebut. Untuk mengantisipasi razia, Mamat dan beberapa penjual asongan yang lain turut mengintai jika ada kehadiran Satpol PP.

    Baca: Cerita Satpol PP Kasus 4 Atlet Jepang Asian Games Pakai PSK

    "Saya dengan teman-teman yang lain juga sama-sama lihat kalau ada, misalnya, mobil Satpol PP-nya ya cepat-cepat langsung lari," kata penjual asal Pasar Senen, Jakarta Pusat itu.

    Untuk modal berdagang stiker, Mamat membeli stiker seharga Rp 300 per lembar. Dari harga itu, ia kemudian menjual seharga Rp 1000 per lembar.

    Kendati kerap harus menghindari Satpol PP, keuntungan Mamat berjualan di area Asian Games cukup lumayan. Keuntungan yang ia peroleh bergantung pada pertandingan yang digelar di GBK. Mamat bisa mengantongi hingga Rp 400 ribu jika tim tuan rumah bertanding. "Ya kalau lagi sepi cuma bawa pulang Rp 20.000, kalau Indonesia main, kan ramai, bisa sampai Rp 400.000," pungkasnya.

    EDO JUVANO | TD


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salah Tangkap, Penangkapan Terduga Teroris, dan Pelanggaran HAM

    Sejak insiden Mako Brimob Kelapa Dua pada Mei 2018, Polri tak mempublikasi penangkapan terduga teroris yang berpotensi terjadi Pelanggaran HAM.