Wagub DKI Jakarta, Anies Baswedan Akan Pilih Ahmad Syaikhu?

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur nomor urut 3 Sudrajat dan Ahmad Syaikhu membawa kaus bertuliskan 2018 Asyik Menang, 2019 Ganti Presiden. Aksi ini membuat situasi debat publik kedua Pilgub Jabar di Balairung Universitas Indonesia Depok, semakin panas, Senin (14/5). YouTube

    Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur nomor urut 3 Sudrajat dan Ahmad Syaikhu membawa kaus bertuliskan 2018 Asyik Menang, 2019 Ganti Presiden. Aksi ini membuat situasi debat publik kedua Pilgub Jabar di Balairung Universitas Indonesia Depok, semakin panas, Senin (14/5). YouTube

    TEMPO.CO, JakartaSejumlah nama telah ditimang Gubernur Anies Baswedan sebagai Wagub DKI Jakarta pengganti Sandiaga Uno. Satu nama muncul paling berpeluang di antara yang lain yakni Ahmad Syaikhu, politikus PKS.

    Baca berita sebelumnya:
    Tolak Taufik Gerindra Sebagai Cawagub? Ini Jawab Anies 

    Informasi ini ditulis Majalah Tempo dalam artikelnya yang berjudul 'Saling Sabot ke Balai Kota', terbit Senin 3 September 2018. Artikel itu menyebut Anies tak berkeberatan jika Syaikhu menjadi pendampingnya. Syaikhu lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dan dinilai bisa memperbaiki persoalan administrasi di DKI. Selain itu, Syaikhu dianggap tak akan menjadi matahari atau pesaing Anies dalam mengelola Ibu Kota.

    Majalah Tempo menulis menurut keterangan dua orang yang mengetahui isi pertemuan Anies dengan sejumlah orang kepercayaannya yang tergabung dalam Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan. Mereka membahas sejumlah nama calon wakil gubernur yang ramai diperbincangkan di ruangan Tim Pembebasan Urusan Tanah di Balai Kota, empat hari setelah Sandiaga Uno mundur.

    Baca:
    Rebutan Wagub DKI Jakarta, Ini Kesepakatan yang Ditolak Taufik Gerindra

    Nama Syaikhu menjadi yang terkuat di antara yang lain. Nama bekas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said, misalnya. Walaupun mengaku lebih nyaman bersamanya tapi Anies tak bisa memilih Sudirman karena mantan cagub Jawa Tengah sudah terdaftar sebagai calon legislator Gerindra.

    Sedang mantan Gubernur Jawa Barat dua periode, Ahmad Heryawan, terganjal Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah, yang melarang posisi kepala daerah ditempati mereka yang telah dua periode menjabat. Nama ketua tim sukses Anies-Sandiaga dari PKS, Mardani Ali Sera juga disisihkan karena yang bersangkutan bakal masuk tim kampanye Prabowo-Sandiaga.

    Dimintai tanggapan soal ini, juru bicara PKS, Mardani Ali Sera, menyatakan partainya tidak menyodorkan siapa pun. "Saya tidak tahu," ujarnya. Sedangkan Syaikhu tak menjawab panggilan telepon dan pesan saat artikel itu dibuat.

    Menurut sumber yang sama, pertemuan itu juga membahas kemungkinan munculnya calon bermasalah. Anies, kata mereka, tak menyebut nama. Tapi semua yang hadir mafhum bahwa yang dimaksudkan adalah Wakil Ketua DPRD Muhammad Taufik.

    Taufik, Ketua Gerindra DKI Jakarta, pernah tersangkut kasus korupsi kala menjabat Ketua KPU DKI. Pada 2006, Taufik divonis 18 bulan penjara karena dianggap merugikan negara Rp 488 juta dalam pengadaan tiang dan bendera serta papan pengumuman untuk Pemilihan Umum 2004.

    Baca:
    ICW: Jika Taufik Gerindra Wagub Akan Bebani Anies

    Tak mau calon yang dianggap bermasalah melaju, pertemuan itu kemudian menyepakati dua calon yang diajukan partai-sesuai dengan Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah-akan disaring lebih dulu melalui proses penilaian kelayakan dan kepatutan sebelum diajukan ke DPRD Jakarta. Nantinya, kata dua sumber yang sama, nama yang masuk akan dibahas Komite Pencegahan Korupsi yang berada di bawah TGUPP.

    Anies Baswedan membantah kisah 'Saling Sabot ke Balai Kota' itu. Dia menilai tak seluruh keterangan sumber Tempo benar atau jelas. "Saya ingin membantah apa yang ditulis di Tempo,” katanya, “Karena yang ditulis Tempo sebagian fiktif."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.