Kasus Mafia Tanah Aset DKI Jakarta, Begini Pengakuan Tersangka

Editor

Ali Anwar

Tanah Samsat Jakarta Timur Terancam Melayang

TEMPO.CO, Jakarta - Direktorat Reserse Kriminal Umum membongkar kasus mafia tanah yang berkaitan dengan aset Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Polisi menangkap tersangka pemalsuan dokumen aset Pemprov DKI bernama Sudarto pada 28 Agustus 2018.

Baca: Polisi Tetapkan 8 Tersangka Mafia Tanah Aset DKI

Tersangka mafia tanah aset DKI Jakarta, Sudarto, mengatakan, kasus ini pernah ditulis  Tempo. "Pernah ditulis Majalah Tempo," kata Sudarto di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu, 5 September 2018.

Sudarto tak mengomentari banyak ihwal kasus ini, karena polisi tak mengizinkan awak media berbincang lama dengannya.

Pemberitaan yang dimaksud Sudarto pernah dimuat Koran Tempo pada 2017. Tercantum bahwa sebidang tanah di Samsat Jakarta Timur telah menjadi objek sengketa sejak 2014. Tanah yang berbatasan dengan Kali Cipinang itu diklaim ahli waris Ukar bin Kardi sebagai milik ayahnya.

Pemprov DKI membeli tanah itu seharga Rp 3,7 miliar dari seorang pengusaha bernama Johnny Hary Soetantyo pada 1985. Barulah Gubernur Wiyogo Atmodarminto meresmikan pembangunan Samsat Jakarta Timur di lahan itu pada 1992. Saat itulah sertifikat hak milik atas nama Johnny berubah nama menjadi hak pakai atas nama pemerintah.

Baca: Tersangka Mafia Tanah Aset DKI, Uang Rp 340 Miliar di Depan Mata

Namun, Sudarto, yang waktu itu tertulis sebagai kuasa ahli waris Ukar, berkukuh Johnny hanya menjual tanahnya kepada Ukar pada 1997. Menurut dia, transaksi itu merupakan penyelesaian utang Johnny kepada Ukar yang pengusaha kulit. "Kami punya sertifikat aslinya. Coba tanya pemerintah, apakah punya?" ujar Sudarto.

Polisi merilis kasus mafia tanah oleh Sudarto dan tujuh tersangka lainnya pada Rabu, 5 September 2018. Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menetapkan delapan orang tersangka memalsukan surat aset milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam Indradi mengatakan, para tersangka mengaku sebagai ahli waris atas tanah milik Ukar bin Kardi. Tanah yang dimaksud adalah lahan gedung Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) Jakarta Timur yang beralamat di Jalan D.I. Panjaitan, Cipinang Besar, Jatinegara, Jakarta Timur.

Delapan tersangka tiba-tiba menggugat Pemprov DKI di Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada 2014. Mereka adalah S, M, DS, IR, YM, ID, INS, dan I. Mereka mengklaim sebagai ahli waris tanah dari seorang bernama Ukar bin Kardi.

Ade memaparkan, penggugat yang mengatasnamakan Dedi Suhendar dan kawan-kawannya ternyata menyerahkan barang bukti palsu. Kepada PN Jakarta Timur, tersangka membeberkan sertifikat hak milik serta akta jual beli ahli waris dengan pemilik lama yang diduga palsu. Namun, pengadilan justru memenangkan para tersangka.

Baca juga: Mafia Tanah Aset DKI, Daftar Lahan yang Hilang dan Terancam Lepas

"Dasar gugatan adalah sertifikat hak milik yang diduga palsu dan sudah dinyatakan palsu oleh Badan Pertanahan Nasional (BNP) Jakarta. Sertifikat ini tidak diterbitkan oleh kantor pertanahan," jelas Ade.

Karena itu, para tersangka mafia tanah aset DKI Jakarta itu dijerat Pasal 263, 264, dan 266 juncto Pasal 55 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Mereka terancam hukuman enam tahun penjara.






Tahun 2022 Polri Anggarkan Rp 159,8 Miliar untuk Pengadaan Gas Air Mata

4 jam lalu

Tahun 2022 Polri Anggarkan Rp 159,8 Miliar untuk Pengadaan Gas Air Mata

Menggunakan sumber dana APBN 2022, Polri melakukan pengadaan gas air mata senilai Rp 152 miliar. Berikut rinciannya.


Tempo Young Entrepreneur Challenge, Pendiri Klamby dan Avoskin Raih Hadiah Terbang ke Korsel

6 jam lalu

Tempo Young Entrepreneur Challenge, Pendiri Klamby dan Avoskin Raih Hadiah Terbang ke Korsel

CEO Avoskin Anugrah Pakerti dan pendiri dan direktur kreatif Wearing Klamby menjadi perwakilan Indonesia di pameran bisnis Korea Selatan mendatang.


Alasan Bappebti Sebut Kripto Masih Prospektif Meski Transaksi Anjlok 56,35 Persen

13 jam lalu

Alasan Bappebti Sebut Kripto Masih Prospektif Meski Transaksi Anjlok 56,35 Persen

Nilai transaksi perdagangan kripto sepanjang Januari-Agustus 2022 tercatat turun 56,35 persen dibandingkan tahun lalu.


LPSK Siap Memberi Pelindungan kepada Aremania yang Terancam

13 jam lalu

LPSK Siap Memberi Pelindungan kepada Aremania yang Terancam

LPSK akan memberi perlindungan kepada Aremania yang terancam dan mengalami intimidasi.


Tempo Young Entrepreneur Challenge Umumkan Empat Pebisnis Muda Inspiratif

13 jam lalu

Tempo Young Entrepreneur Challenge Umumkan Empat Pebisnis Muda Inspiratif

Tempo.co mengumumkan empat pebisnis muda yang terpilih menyandang penghargaan sebagai pebisnis muda inspiratif dalam acara TEMPO Young Entrepreneur Challenge, di Jakarta, Selasa, 4 Oktober 2022.


Semester I 2022, BPK Sebut Ada 9.158 Temuan Senilai Rp 18,37 T

14 jam lalu

Semester I 2022, BPK Sebut Ada 9.158 Temuan Senilai Rp 18,37 T

Badan Pemeriksa Keuangan atau BPK mengungkap 9.158 temuan yang memuat 15.674 permasalahan senilai Rp18,37 triliun pada semester I/2022.


Bapenda DKI Buka Lowongan Kerja Posisi Regional Manager, Cek Syaratnya

17 jam lalu

Bapenda DKI Buka Lowongan Kerja Posisi Regional Manager, Cek Syaratnya

Bapenda DKI Jakarta saat ini tengah membuka lowongan kerja Tenaga Ahli Pemetaan untuk posisi Regional Manager.


Tragedi Kanjuruhan: ICJR Dorong 28 Polisi Tak Hanya Diperiksa Soal Kode Etik, tapi juga Pidana

21 jam lalu

Tragedi Kanjuruhan: ICJR Dorong 28 Polisi Tak Hanya Diperiksa Soal Kode Etik, tapi juga Pidana

ICJR mendorong 28 anggota polisi yang diduga terlibat dalam tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022, diperiksa dalam dugaan pelanggaran pidana


Ini Penyebab Dua Polisi Meninggal saat Tragedi Kanjuruhan

21 jam lalu

Ini Penyebab Dua Polisi Meninggal saat Tragedi Kanjuruhan

Dua personel polisi tewas dalam tragedi Kanjuruhan, Sabtu 1 Oktober 2022 lalu. Keduanya tewas saat berada di tribun selatan


Lesti Kejora Laporkan Rizky Billar KDRT, Polisi Akan Pertemukan 2 Selebritas Ini

1 hari lalu

Lesti Kejora Laporkan Rizky Billar KDRT, Polisi Akan Pertemukan 2 Selebritas Ini

Polres Metro Jakarta Selatan mengecek TKP Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).yang dialami penyanyi Lesti Kejora.