Jumat, 21 September 2018

Dua Kesaksian Palsu Dalam Tawuran Sadistis Geng Pelajar Gusdon

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepolisian Resor Jakarta Selatan menunjukan satu dari 10 tersangka tawuran yang menyebabkan siswa SMA Muhammadiyah 15 tewas, Kamis, 6 September 2018. Tempo/Imam Hamdi

    Kepolisian Resor Jakarta Selatan menunjukan satu dari 10 tersangka tawuran yang menyebabkan siswa SMA Muhammadiyah 15 tewas, Kamis, 6 September 2018. Tempo/Imam Hamdi

    TEMPO.CO, Jakarta - Kasus tawuran geng pelajar Gusdon alias Gusuran Donat tak hanya mengungkap modus dan perilaku pelajar yang semakin sadistis terhadap sesamanya. Dalam tawuran itu satu siswa tewas dengan banyak luka akibat sabetan senjata tajam dan disiram air keras.

    Baca:
    Polisi Tetapkan 10 Tersangka Tawuran Geng Pelajar Gusdon

    Penyelidikan polisi atas kronologi kasus itu juga mengungkap kesaksian palsu yang diduga dilakukan para pelajar tersebut kepada orang tua maupun polisi. Mereka berbohong untuk menutupi tawuran yang mereka lakoni di depan Apartemen Belleza Jalan Jenderal Soepeno Kelurahan Grogol Utara, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada Sabtu dini hari 1 September 2018.

    Kebohongan pertama ditemukan ketika polisi menelusuri kepemilikan sepeda motor yang tertinggal di lokasi tawuran. Keberadaan sepeda motor itu membantu polisi lebih cepat mendeteksi keberadaan para pelaku dan menangkap para tersangka.

    Dari penyelidikan atas sepeda motor tersebut, polisi mendatangi rumah pemiliknya. Anehnya, saat didatangi polisi, keluarga menyatakan bahwa motor telah dibegal. Bahkan, keluarga memperlihatkan surat laporan kehilangan yang didapat dari Kepolisian Sektor Kebayoran Lama.

    Baca:
    Tawuran Sadistis Geng Pelajar, Satu Alumni SMAN 32 Masuk DPO Polisi

    Setelah diselidiki, ternyata satu pelajar pemiliknya ketakutan terhadap orang tuanya karena motor tertinggal setelah tawuran. "Jadi, pelaku laporan ke keluarga bahwa dirinya dibegal,” ujar Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Stefanus Tamuntuan.

    Baca kebohongan kedua di halaman berikutnya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salah Tangkap, Penangkapan Terduga Teroris, dan Pelanggaran HAM

    Sejak insiden Mako Brimob Kelapa Dua pada Mei 2018, Polri tak mempublikasi penangkapan terduga teroris yang berpotensi terjadi Pelanggaran HAM.