Selasa, 11 Desember 2018

Pembunuhan di Cileungsi, Ini Motif YS Potong Kelamin Korban

Reporter:
Editor:

Suseno

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi penusukan. pakistantoday.com

    Ilustrasi penusukan. pakistantoday.com

    TEMPO.CO, Bogor - Polisi masih memeriksa pria berinisial YS, tersangka pembunuhan Nasion Andi di Desa Dayeuh, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor. Sejauh ini, polisi tidak menemukan kesulitan untuk mendapat pengakuan dari pria 40 tahun itu. 

    Baca: Pembunuhan Potong Kelamin, Tetangga Tak Ada yang Curiga

    “Kalau menurut pengakuan tersangka, korban sering menjanjikan sesuatu, namun hampir setahun tak kunjung dipenuhi sehingga tersangka kesal,” kata Kepala Kepolisian Sektor Cileungsi Komisaris Asep Fajar, Jumat, 14 September 2018.

    Menurut Asep, rasa kesal itu juga yang membuat YS tega memotong alat kelamin korban. Ihwal dugaan hubungan sesama jenis antara korban dan tersangka, Asep belum bisa memastikan. Untuk itu, penyidik berencana memeriksakan kejiwaan tersangka.

    Meski begitu, Asep membenarkan jika tersangka serta korban tinggal dalam satu rumah. Tersangka mengaku pernah merintis usaha pangkas rambut bersama korban. Kebetulan tempat usaha itu ada di rumah korban. Karena itu, dia sering menginap. “Tapi usaha itu tidak berjalan lancar dan bangkrut dan setelahnya pelaku terus tinggal di rumah korban,” ujar Asep.

    Baca: Pembunuhan Potong Kelamin, Korban dan Pelaku Pernah Serumah

    Nasion Andi ditemukan tewas pada 11 September lalu di garasi rumahnya di Kampung Dayeuh, Rt 01/02 Desa Dayeuh, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor. Pria berusia 56 tahun itu menderita luka parah di kepala. Alat kelaminnya juga terpotong. Pembunuhan Nasion itu diketahui setelah YS menyerahkan diri ke Polsek Cikarang Barat.  


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.