Kriminalitas Anak, KPAI Soroti Sekolah Swasta Tak Populer

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi tawuran pelajar. Dok. TEMPO/Dasril Roszandi;

    Ilustrasi tawuran pelajar. Dok. TEMPO/Dasril Roszandi;

    TEMPO.CO, Bekasi - Komisioner di Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Kota Bekasi, Ruri Arif Rianto, mengatakan kriminalitas anak cenderung tumbuh dari keluarga dengan perekonomian menengah ke bawah. Di keluarga itu orang tua sibuk mencari uang dibanding mengurusi anaknya.

    Baca:
    Kriminalitas Anak diBekasi Meningkat, Simak 5 Kasus Ini

    “Kondisi ini tak bisa disalahkan juga, tapi setidaknya orang tua harus memberikan perhatian,” kata dia, Minggu 30 September 2018.

    Kondisi, menurut Ruri, menjadikan peran sekolah bertambah penting. Terutama dia menunjuk sekolah-sekolah swasta yang kurang populer. Sebab, menurut Ruri lagi, mayoritas pelaku kriminalitas melibatkan pelajar asal sekolah tersebut.

    KPAI, kata Ruri, nyaris tak melihat pelajar dari sekolah swasta populer seperti Al-Azhar terlibat aksi kriminalitas. “Ini peran pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah swasta,” ujar dia.

    KPAI Kota Bekasi menanggapi pernyataan kepolisian setempat bahwa angka kriminalitas melibatkan anak meningkat. Bahkan, kejahatan yang dilakukan dianggap cukup berat. “Bukan tren, tapi berdasarkan catatan memang meningkat," kata Kapolres Metro Bekasi Kota, Komisaris Besar Indarto.

    Baca berita sebelumnya:
    Gerombolan Anak Disangka Merampok Toko Handphone di Bekasi

    Kasus terbaru adalah perampokan sebuah gerai ponsel di Jalan Raya Narogong pada Jumat dini hari lalu. Perampokan disertai penganiayaan dan penyekapan terhadap seorang penjaga gerai. Polisi berhasil menangkap dua di antara lima tersangka pelakunya, yakni MIP, 15 tahun, dan JIP, 17 tahun, lewat sebuah pengepungan tak lama dari kejadian perampokan itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.