Polda Sebut Sejumlah Kejanggalan Kasus Ratna Sarumpaet

Reporter:
Editor:

Ali Anwar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratna Sarumpaet. TEMPO/Arkhelaus Wisnu

    Ratna Sarumpaet. TEMPO/Arkhelaus Wisnu

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Nico Afinta menilai ada sejumlah kejanggalan dalam kasus dugaan penganiayaan terhadap aktivis Ratna Sarumpaet. Di antara kejanggalannya, kata Nico, soal konferensi internasional dengan beberapa peserta asing di Bandung, Jawa Barat.

    Baca juga: Viral Kasus Ratna Sarumpaet, RSK Bina Estetika Tertutup

    "Sudah dicek di Polda Jawa Barat bahwa pada 21 September lalu belum ada kegiatan internasional," kata Nico dalam keterangan pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu, 1 Oktober 2018.

    Alasannya, kata Nico, Polda Jawa Barat tidak menerima laporan terkait rencana kegiatan internasional saat itu. Jika memang ada kegiatan internasional, maka polisi akan membuat rencana pengamanan kegiatan internasional.

    Dugaan penganiayaan versi Ratna Sarumpaet menyatakan peristiwa terjadi pada 21 September 2018 malam di sekitar Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat. Saat itu, Ratna Sarumpaet disebut baru saja menghadiri acara konferensi internasional dengan beberapa peserta asing.

    Tapi, lata Nico, berdasarkan hasil penyelidikan polisi, pada 21 September 2018 Ratna Sarumpaet tengah berada di Rumah Sakit Bina Estetika, Menteng, Jakarta Pusat. Dalam buku tamu RS itu, Ratna Sarumpaet terdaftar menjadi pasien sejak 21 September 2018 pukul 17.00 WIB.

    "Ada dua perbedaan keterangan yang beredar di media sosial dengan hasil pengecekan, yang beredar (Ratna Sarumpaet) disebut di Bandung pada malam hari, sementara Ibu Ratna ada di rumah sakit pada jam 17.00 WIB sesuai buku pendaftaran," kata Nico.

    Menurut Nico, Ratna Sarumpaet berada di rumah sakit itu selama 21 - 24 September 2018. Nico juga menyebut, berdasarkan keterangan pihak rumah sakit, Ratna Sarumpaet telah  mendaftar untuk berobat di rumah sakit tersebut sehari sebelumnya.

    "Ibu Ratna Sarumpaet tanggal 20 September sudah melakukan pemesanan terlebih dahulu, artinya datang ke RS sudah direncanakan, bukan tiba-tiba," ucap Nico.

    Namun, Nico belum mengungkapkan perawatan jenis apa yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet di klinik bedah plastik tersebut. Polisi, kata Nico, masih menyelidiki tindakan medis yang dilakukan Ratna Sarumpaet saat itu.

    "Kami masih mendalami apakah ibu Ratna Sarumpaet ke sana melakukan hal-hal seperti yang ditawarkan rumah sakit, ini masih satu hari, tentunya setelah pemeriksaan saksi-saksi lain akan lebih jelas," kata Nico.

    Sebelumnya, Foto Ratna Sarumpaet beredar di berbagai grup aplikasi pesan Whatsapp. Hampir seluruh wajahnya lebam. Mata perempuan itu pun bengkak. Ratna Sarumpaet mengenakan kemeja garis-garis. Di belakangnya terlihat ada tiang penyangga infus. Ratna Saumpaet seperti tengah duduk di tempat tidur rumah sakit. Saat ini, kata Nico, polisi masih menyelidiki kebenaran kasus penganiayaan tersebut.

    Baca juga: Gerindra Minta Ratna Sarumpaet Jelaskan Penyebab Luka di Wajahnya

    Jika terbukti berita itu hoaks, maka pelaku akan dijerat dua pasal,yakni Pasal 1 dan 2 UU nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 28 Ayat 2 Juncto Pasal 45 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan UU Nomor 11 tahun 2008 tentang UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). “Pelaku dapat dijerat hukuman pidana penjara paling lama enam tahun dan atau denda paling banyak Rp 1 miliar,” kata Nico.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.