Pengamat Tanggapi Rencana Sistem Ganjil Genap di Jalur Puncak

Reporter:
Editor:

Suseno

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan ribu kendaraan memadati jalur Puncak di Simpang Gadog, Kamis, 5 Mei 2016. Kemacetan juga terjadi dibeberapa titik di sepanjanh Jalur Puncak seperti di Simpang Pasir Muncang, Tanjakan Selarong, Simpang Megamendung, Pasar Cisarua, dan Warunh Kaleng. TEMPO/Lazyra Amadea Hidayat

    Puluhan ribu kendaraan memadati jalur Puncak di Simpang Gadog, Kamis, 5 Mei 2016. Kemacetan juga terjadi dibeberapa titik di sepanjanh Jalur Puncak seperti di Simpang Pasir Muncang, Tanjakan Selarong, Simpang Megamendung, Pasar Cisarua, dan Warunh Kaleng. TEMPO/Lazyra Amadea Hidayat

    TEMPO.CO, Bogor - Pengamat Perkotaan Yayat Supriatna menilai sistem ganjil genap sangat layak digunakan untuk mengganti sistem one way (satu arah) yang selama ini digunakan di jalur Puncak, Kabupaten Bogor. Namun kebijakan itu harus dibarengi dengan penyediaan moda transportasi massal.

    Baca : One Way Tak Ampuh, Polres Bogor Kaji Ganjil Genap di Jalur Puncak

    “Setidaknya dapat mengurangi sepertiga atau setengah dari jumlah kendaraan yang melaju di Jalur Puncak,” kata Yayat, Kamis, 4 Oktober 2018.

    Menurut Yayat, sistem one way yang biasa digunakan untuk mengurai kemacetan di jalur Puncak sudah tidak relevan lagi. Sebab jumlah pertumbuhan kendaraan tidak seimbang dengan penambahan jaringan jalan. “Apalagi kendaraan pelancong di Puncak mayoritas berpelat B (Jakarta),” katanya.

    Jika sistem one way dipertahankan, Yayat khawatir akan berdampak buruk terhadap perekonomian masyarakat di sekitar Puncak. “Di benak orang saat ini kan ke Puncak macet. Lambat laun ini bisa mengganggu perekonomian sekitar Puncak,” kata Yayat.

    Baca: 6 Fakta dan Fenomena dari Perluasan Ganjil Genap di Jakarta

    Penerapan sistem ganjil genap, kata Yayat, memberi peluang untuk mengintegrasikan sarana angkutan umum ke Puncak. Mislanya saja dengan menyediakan angkutan pengumpan tak berbayar. “Pemerintah Kabupaten Bogor menyediakan lahan, Kementrian Perhubungan sediakan bus dan fasilitas, dan pengusaha wisata untuk biaya operasional,” kata Yayat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Google Doodle, Memperingati Chrisye Pelantun Lilin-Lilin Kecil

    Jika Anda sempat membuka mesin pencari Google pada 16 September 2019, di halaman utama muncul gambar seorang pria memetik gitar. Pria itu Chrisye.