Proyek LRT Jakarta, Simak Rekayasa Lalu Lintas Simpang Pancoran

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi tiang pancang Light Rail Transit (LRT) di Cawang, Jakarta Timur yang telah dipasang pier head, Kamis 22 Februari 2018. TEMPO/Alfan Hilmi.

    Kondisi tiang pancang Light Rail Transit (LRT) di Cawang, Jakarta Timur yang telah dipasang pier head, Kamis 22 Februari 2018. TEMPO/Alfan Hilmi.

    TEMPO.CO, Jakarta - Dinas Perhubungan DKI Jakarta menerapkan rekayasa lalu lintas di kawasan Pancoran, menyusul pembangunan proyek light rail transit (LRT) Cawang-Dukuh Atas. Pekerjaan pemasangan u-shape dan pier head proyek LRT itu dimulai 6 Oktober hingga 13 Oktober mendatang.

    Baca: Rekayasa Lalu Lintas, Jalan Wahid Hasyim Bakal Satu Arah

    Pelaksana tugas Kepala Dinas Perhubungan Sigit Widjatmiko mengatakan lokasi pemasangan u-shape dan pier head proyek LRT tersebut berada tepat di Jalan Gatot Subroto sisi selatan. “Depan Gedung Smesco,” kata Sigit, Ahad, 7 Oktober 2018.

    U-shape adalah pondasi stuktur bangunan LRT yang berbentuk seperti huruf U, sedangkan pier head adalah kepala pilar penyangga yang akan menyokong struktur u-shape.     

    Dampak proyek LRT itu, ada tiga titik akses jalan yang harus ditutup, yakni flyover Pancoran sisi selatan, jalur putar balik arah barat flyover Pancoran, serta jalan bawah flyover Pancoran menuju Kuningan. Tapi penutupan jalan dilakukan hanya selama pekerjaan berlangsung. “Pukul 23.00–05.00.”

    Dinas Perhubungan menyiapkan jalur alternatif selama jalan ditutup. Menurut Sigit, sebagai alternatif jalan menuju Kuningan pengendara dari Cawang, Tebet, atau Kalibata bisa berbelok ke Jalan Supomo hingga Jalan H.R. Rasuna Said. Adapun untuk sebaliknya, dari Kuningan, pengendara bisa beralih ke Jalan Pasar Minggu dan Jalan Duren Tiga Raya.

    Proyek pembangunan light railtransit (LRT) atau kereta ringan Cibubur-Cawang, Jakarta Timur, Jumat, 29 Desember 2017. Tempo/Ali Anwar

    Adapun kendaraan roda empat atau lebih bisa melewati jalur jalan tol karena gerbang jalan tol Tebet Barat 1 tetap terbuka dan bisa dilalui.

    Masih ada imbas lain akibat pemasangan u-shape dan pier head proyek LRT Cawang-Dukuh Atas. Sigit mengatakan efek lain tersebut adalah penutupan halte bus Transjakarta di Pancoran Barat. Walhasil, jalur bus Transjakarta Koridor 9 (Pinang Ranti-Pluit) yang melewati halte itu akan berubah rute.

    “Koridor 9 akan melewati Gate Tol Tebet 1 keluar di exit tol Tegal Parang,” ujar dia.

    Kepala Bidang Hubungan Masyarakat PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), Wibowo, menuturkan pelayanan bus Transjakarta Koridor 9 tidak akan terpengaruh oleh penutupan ini. Namun, bus tak bisa menurunkan dan membawa penumpang di halte bus Transjakarta Pancoran Barat.

    Sebanyak tujuh rute bus Transjakarta yang melewati Halte Pancoran Barat, di antaranya, adalah rute Pinang Ranti-Pluit, PGC-Pluit, Pinang Ranti-Kota, Pinang Ranti-Bundaran Senayan, Kebayoran Lama-Grogol 2, dan Cipedak-Blok M.

    Proyek pembangunan kereta ringan atau LRT Jabodebek rute Cawang-Dukuh Atas terbagi dalam tiga rute, yaitu Cibubur-Cawang sepanjang 14,5 kilometer, Bekasi Timur-Cawang sepanjang 17,1 km, dan Cawang-Dukuh Atas sepanjang 10,5 km. Pengerjaan proyek LRT tahap I tersebut ditargetkan rampung pada pertengahan 2019.

    Baca: Menjajal Uji Coba LRT untuk Umum, Emak-Emak Ketagihan

    Direktur Utama Adhi Karya (ADHI), Budi Harto, mengatakan perkembangan pembangunan proyek LRT Jakarta secara keseluruhan hingga September 2018 sudah mencapai 47 persen. Artinya, menurut dia, kemajuan pekerjaan sesuai dengan jadwal pembangunan. “Akhir tahun (2018) target tercapai 75 persen pembangunan,” tutur Budi.

    LINDA HAIRANI 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.