Selasa, 11 Desember 2018

Ojek Disabilitas di Asian Para Games, Pengemudi: Semoga Jadi Motivasi

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Layanan ojek disabilitas untuk pengunjung Asian Para Games di Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, 9 Oktober 2018. Tempo/Imam Hamd

    Layanan ojek disabilitas untuk pengunjung Asian Para Games di Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, 9 Oktober 2018. Tempo/Imam Hamd

    TEMPO.CO, Jakarta - Sepeda motor yang telah dimodifikasi menjadi roda tiga milik Hendra hilir mudik mengantar pengunjung Asian Para Games 2018 di Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Selasa 9 Oktober 2018. Hendra adalah penyandang disabilitas dilibatkan menjadi pengemudi ojek disabilitas oleh Asian Para Games Organizing Committee (Inapgoc).

    Baca: Sebagian Tiket Asian Para Games 2018 Gratis, Ini Rinciannya

    Pria berusia 38 tahun itu bertugas mengantar pengunjung yang masuk melalui pintu atau gate 5 Gelora Bung Karno ke venue pertandingan.

    "Sehari bisa lebih dari 20 penumpang saya antarkan ke venue pertandingan," kata Hendra di pangkalan ojek disabilitas dekat gate 5 GBK. "Penumpangnya siapa saja boleh. Tapi lebih diutamakan yang disabilitas."

    Selain Hendra, ada 34 penyandang disabilitas lainnya yang dilibatkan menjadi pengemudi ojek disabilitas selama sepekan dari pembukaan sampai penutupan Asian Para Games sejak 6 Oktober sampai 13 Oktober 2018. Ojek disabilitas mulai beroperasi sejak pukul 10.00-17.00.

    Pria yang hobi bermusik ini mengetahui ada pembukaan kesempatan menjadi pengemudi ojek disabilitas dari Komunitas Roda Tiga, yang menjadi bagian dari Lembaga Kreatif Indonesia. Pada Juli lalu, komunitasnya diundang Direktur Transportasi Asian Para Games untuk sosialisasi terkait dengan ojek disabilitas.

    "Yang dilibatkan adalah penyandang disabilitas yang mempunyai motor roda tiga sendiri," ujarnya. Penyelenggara, kata Hendra, menjanjikan honor Rp 500 ribu per hari bagi pengemudi ojek disabilitas.

    Hendra mengaku telah mempunyai motor Yamaha Mio GT modifikasi roda tiga sejak lima tahun lalu. Motor tersebut digunakan untuk mobilitasnya sehari-hari. "Sebelum mempunyai motor itu selalu diantar kemana-mana sama orang," ujarnya.

    Hendra mengatakan dirinya tidak bisa berjalan karena polio. Virus tersebut menyebabkan kakinya mengecil dan mengalami kelumpuhan. Menurut dia, penyakit tersebut menyerang setelah disuntik dokter saat suhu tubuhnya sedang demam.

    "Saya terkena polio sejak usia 1 tahun, yang menyebabkan saya tidak bisa berjalan."

    Pria yang tinggal di Pisangan Timur, Pulogadung, Jakarta Timur, itu senang terlibat sebagai pengemudi ojek disabilitas. Menurut dia, penyelenggara bisa menunjukan bahwa tidak perbedaan antara penyandang disabilitas dengan yang lainnya.

    "Saya berharap keberadaan kami bisa menginspirasi dan memotivasi orang lain," ujarnya.

    Ada beberapa pengemudi ojek disabilitas lain di arena Asian Para Games 2018. Salah satunya Reza Kusuma, 30 tahun.

    Reza menjadi penyandang disabilitas sejak 12 tahun lalu. Kakinya diamputasi karena tertabrak mobil.

    Ia mengaku mendapatkan tawaran pekerjaan ini dari Disabilitas Motor Community dua bulan lalu. Ia pun memutuskan untuk ikut serta dan cuti dari tempat kerjanya di pabrik garmen. "Saya dikasih cuti dari tempat kerja untuk menjadi ojek disabilitas selama Asian Para Games," ujarnya.

    Ia mengatakan per hari bisa mengantar antara 20-60 orang. Pengunjung paling banyak yang diantarkan saat pembukaan Asian Para Games kemarin.

    Baca: Momen Berkesan Pembukaan Asian Para Games 2018

    Pria yang telah dikaruniai seorang anak ini memperkirakan pengunjung bakal terus meningkat sampai penutupan Asian Para Games 2018 nanti. Hendra pun siap untuk mengantarkan berapa pun pengunjung yang meminta jasanya. "Jasa kami gratis."


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.