Jumat, 16 November 2018

Cerita Remaja Pemburu Buaya Jembatan Mangga Dua Square

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Beberapa anak menunggu buaya di jembatan penghubung Jalan Gunung Sahari dan Mangga Dua Square, Sabtu, 13 Oktober 2018. Tempo/M Yusuf Manurung

    Beberapa anak menunggu buaya di jembatan penghubung Jalan Gunung Sahari dan Mangga Dua Square, Sabtu, 13 Oktober 2018. Tempo/M Yusuf Manurung

    TEMPO.CO, Jakarta - Kabar buaya terlihat di Kali Gunung Sahari membuat Nicholas Saputra, 15, dan beberapa temannya punya kegiatan baru, yaitu berburu satwa liar itu. Anak lelaki yang tinggal di daerah sekitar Jalan Gunung Sahari itu bercerita bagaimana mereka berusaha menangkap buaya. 

    Baca: Buaya Belum Ditangkap, Petugas Kebersihan Sungai Tak Takut

    Nicholas mengatakan dia melihat sendiri buaya itu. "Lihat ada dua, satu sedang, satu kecil sih," ujar Nicholas, Rabu, 17 Oktober 2018.

    Menurut Nicholas, terakhir kali dia dan teman-temannya melihat buaya itu pada dua hari yang lalu. Buaya itu sering berada di bawah kolong jembatan kali Gunung Sahari, dekat pintu masuk Mangga Dua Square.

    Namun buaya itu enggan menampakkan diri jika situasi ramai.

    Menurut Nicholas, dia dan teman-temannya berusaha memburu buaya tersebut menggunakan tikus atau anak ayam sebagai umpan. Mereka mengatakan bahwa umpan tersebut habis dimakan buaya dan ada jejak buaya nya di bawah kolong jembatan. 

    "Tapi sih kalo warga sih ngeburu jarang, paling remaja2 doang sepantaran saya nih pada ngeburu ke kolong" ujar Nicholas.

    Baca: Buaya di Jembatan Mangga Dua Square Menampakkan Diri, Ada 5 Ekor

    Namun hingga saat ini Nicholas dan teman-temannya bahkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) belum bisa menangkap buaya tersebut. Jaring yang sudah dipasang sejak beberapa hari lalu di kolong jembatan belum berhasil menjerat satwa itu.

    NADA ZEITALINI | TD


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.