Jumat, 16 November 2018

Hoax Ratna Sarumpaet, Polisi Periksa Atiqah Hasiholan Malam Ini

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atiqah Hasiholan bersama ibunya Ratna Sarumpaet. TEMPO/Nurdiansah

    Atiqah Hasiholan bersama ibunya Ratna Sarumpaet. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyidik Polda Metro Jaya akan memeriksa aktris Atiqah Hasiholan, anak Ratna Sarumpaet terkait kasus hoax ibunya pada hari ini, Selasa, 23 Oktober 2018. 

    Baca: Jenguk Ratna Sarumpaet, Atiqah Hasiholan Datang Tanpa Rio Dewanto

    Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono mengatakan Atiqah akan diperiksa sebagai saksi dalam kasus berita bohong yang menjerat ibunya.

    “Sebagai saksi, jam 20.00 WIB nanti pemeriksaannya,” ujar Argo saat dihubungi Tempo, Selasa siang. 

    Argo mengatakan polisi juga akan memeriksa seorang staf Ratna Sarumpaet. Namun, ia belum dapat menyebutkan nama staf yang dimaksud.

    Kasus hoax yang menjerat Ratna Sarumpaet berawal ketika dia mengaku dipukuli dan dianiaya saat berada di Bandung, Jawa Barat, pada 21 September lalu. Belakangan polisi mengungkap Ratna tak dipukuli melainkan menjalani operasi plastik di sebuah rumah sakit di Menteng, Jakarta Pusat.

    Tebak, ini foto Atiqah Hasiholan atau Nadine Chandrawinata? Instagram

    Polisi kemudian menangkap Ratna di Bandara Internasional Soekarno-Hatta sesaat sebelum ia terbang ke Cile pada 4 Oktober 2018 lalu. Sehari sesudahnya, polisi menahan aktivis itu di Rumah Tahanan Polda Metro Jaya dan menetapkannya sebagai tersangka kasus kebohongan.

    Baca: Atiqah Hasiholan Akan Menjenguk Ratna Sarumpaet, tapi

    Sebelum memanggil Atiqah Hasiholan, polisi telah memeriksa seorang asisten Ratna Sarumpaet yang bernama Ahmad Rubangi. Dari keterangan Ahmad diketahui Ratna Sarumpaet pertama kali mengungkapkan kebohongannya kepada asisten rumahnya.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.