Sampah Menumpuk di Pintu Air Setelah Hujan, Dinas LH Gerak Cepat

Reporter:
Editor:

Suseno

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pencemaran sungai di Jakarta. TEMPO/Imam Sukamto

    Ilustrasi pencemaran sungai di Jakarta. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta – Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta harus bergerak cepat mengangkut sampah yang menumpuk di sejumlah pintu air. Sampah-sampah itu berasal dari hilir yang hanyut terbawa air setelah hujan deras di kawasan Jabodetak, kemarin malam.

    Baca: Terus Menggunung, Bau Sampah Bantargebang Sampai 10 Kilometer

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa  Adji mengatakan petugas sudah dikerahkan untuk membersihkan sampah itu tadi malam. “Saya monitor terus. Malam langsung dikerjakan, pagi sudah terkendali,” ujar Isnawa, Senin, 29 Oktober 2018.

    Isnawa mengatakan, gerak cepat ini bisa dijalankan karena ada petugas yang mengawasi pintu air selama 24 jam. Selain itu, saringan sampah dan alat berat juga disiagakan di pintu air tersebut. "Paginya yang piket langsung lanjut membersihkan," kata dia.

    Ihwal jumlah sampah yang diangkut, Isnawa mengetahui secara rinci. Menurut dia, pihaknya masih menghitung dan merekap jumlah sampah itu bersama sampah hari ini.

    Semalam, hujan dengan intensitas cukup lebat mengguyur kawasan Jakarta dan sekitarnya pada pukul 21.30 hingga 22.15. Hujan yang berlangsung hampir  1,5 jam itu membuat debit air naik.

    Dari pantauan Tempo semalam, aliran Kali Sunter yang berada di Jalan Tanah Tinggi, debit air hampir menyamai permukaan jalan. Arus air yang cukup deras itu membawa sampah yang tersangkut di jaring-jaring sepanjang aliran kali.

    Baca : ITF Sampah Dibangun di Sunter, Anies Baswedan Kaji Lokasi Lain

    Pagi tadi Tempo tak menemukan tumpukan sampah pada jaring. Selain itu, di Pintu Air Manggarai tadi pagi juga terlihat mesin eskavator mengangkut sisa sampah yang jumlahnya tidak terlalu banyak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.