Selasa, 13 November 2018

Cerita Kopilot Lion Air Jatuh, Sakit Gigi Tapi Tetap Terbang

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Boeing 737 Max 9 Lion Air (Boeing.com)

    Boeing 737 Max 9 Lion Air (Boeing.com)

    TEMPO.CO, Tangerang Selatan - Adik dari Kopilot Lion Air yang jatuh di Tanjung Karawang, Senin 29 Oktober 2018, mengungkap sepenggal kisah sebelum hari nahas terjadi. Kopilot adalah Harvino, warga kompleks perumahan Serpong Green Park 2, Tangerang Selatan.

    Baca juga:
    Kenangan Tetangga, Kopilot Lion Air Senang Bercanda

    "Tiga hari lalu masih bertemu, ya bercanda saja nggak ada firasat apa-apa,” kata Vinni Wulandari (36), adik Harvino, saat ditemui di rumah duka, Senin 29 Oktober 2018.

    Vinni mengisahkan kalau Harvino cukup sering singgah ke rumahnya di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Lokasi pemeriksaan kesehatan Harvino berada di kawasan yang sama. “Yang saya tahu dia itu lagi nggak boleh terbang karena ada masalah di giginya," kata Vinni lagi.

    Saat menerima kabar kecelakaan pesawat Lion Air itu, Vinni berusaha langsung menghubungi Harvino namun telepon genggam yang dituju tak aktif. Harvino disebutkannya meninggalkan seorang istri dan tiga anak yang seorang di antaranya bayi berusia 10 bulan.

    Baca juga:
    Ketua RT Ini Korban Pesawat Lion Air Jatuh, Warga Satu Perumahan Berduka
    Cerita Korban Lion Air Jatuh Setelah Tunda Jadwal Penerbangan

    Pesawat Lion Air JT 610 jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin pagi 29 Oktober 2018, tak lama setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta. Pesawat yang mengangkut 181 penumpang—berdasarkan manifes—sejatinya terbang menuju Pangkal Pinang, Kepulauan Riau.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?