Selasa, 20 November 2018

Psikolog: Keluarga Korban Lion Air JT 610 Butuh Sekali Teman

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kesedihan keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 saat menunggu hasil idenfikasi korban di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa, 30 Oktober 2018. Badan SAR Nasional memprediksi para korban masih berada di dalam pesawat Lion Air Lion Air JT 610 tujuan Jakarta - Pangkal Pinang. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Kesedihan keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 saat menunggu hasil idenfikasi korban di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa, 30 Oktober 2018. Badan SAR Nasional memprediksi para korban masih berada di dalam pesawat Lion Air Lion Air JT 610 tujuan Jakarta - Pangkal Pinang. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta -Psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), Wiene Dewi, mengatakan kerabat atau keluarga dari korban penumpang Lion Air JT 610 saat ini hanya membutuhkan teman untuk menghadapi musibah kecelakaan pesawat tersebut.

    Para kerabat korban jatuhnya Lion Air JT 610, kata Wiene, saat ini hanya membutuhkan seseorang yang dapat mendengarkan curahan hati dan ceritanya.

    Baca : Ini Tiga Crisis Center Lion Air Jatuh yang Buka 24 Jam di 3 Lokasi

    "Soalnya nanti mereka akan lebih merasa kehilangan setelah ada serah terima (jenazah)," kata Wiene di hotel Ibis, Cawang, Jakarta, Rabu 31 Oktober 2018.

    Karyawan PT Timah Tbk meletakkan bunga di meja kerja rekannya yang menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 sebagai bentuk penghormatan, di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Rabu, 31 Oktober 2018. Empat karyawan PT Timah Tbk turut menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air. ANTARA/Ananta Kala

    Wiene mengatakan psikolog dari Himpsi akan terus melakukan pendampingan pada keluarga korban setelah serah terima jenazah dilakukan. Menurut dia, pihaknya tak akan melakukan intervensi apapun dalam menangani pendampingan psikologis tersebut.

    "Kami tidak intervensi apakah kerabat korban ini harus diberi konseling, terapi, dan semacamnya. Setiap orang punya cara berbeda dalam menghadapi masalah," tuturnya.

    Wiene menuturkan saat ini telah ada dua perkumpulan psikolog, yaitu dari kepolisian dan Himpsi, untuk menangani pendampingan psikologis kerabat korban Lion Air JT 610. Ia juga mengatakan hingga saat ini Himpsi telah memiliki tiga Crisis Center di Bandara Halim Perdanakusuma, hotel Ibis Cawang, dan Rumah Sakit Polri Kramatjati.

    Simak juga :
    3 Alasan Target Penyelesaian Skybridge Tanah Abang Meleset 2 Kali

    "Yang kami lakukan benar-benar pendampingan, jadi misalnya ada yang menangis, ada yang pengen curhat, selalu kami dengarkan. Baru kami lihat jika ada yang butuh tindakan lanjutan kami sediakan ruangan khusus," ujarnya.

    Seorang kerabat memegangi foto salah seorang pramugari pesawat Lion Air JT 610, Alfiani Hidayatul Solikah di rumahnya Desa Mojorejo, Madiun, Jawa Timur, Selasa, 30 Oktober 2018. Alfiani merupakan salah seorang pramugari yang ikut dalam penerbangan yang mengalami kecelakaan di perairan Karawang Jawa Barat. ANTARA/Siswowidodo

    Pesawat Lion Air JT 610 yang mengangkut 189 penumpang beserta kru penerbangan jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin 29 Oktober 2018. Pesawat dengan rute bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, menuju Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang ini hilang kontak dengan menara pengawas sekitar pukul 06.30 WIB.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Sisi Gelap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

    Kasus pembunuhan Jamal Khasoggi yang diduga dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi membuat dunia menyorot empat sisi gelap Mohammed bin Salman.