Evakuasi Lion Air, Penyelam Ungkap Kendala Lain di Dasar Laut

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi bawah air di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, di lokasi ditemukannya puing-puing pesawat Lion Air JT 610. Tim Basarnas menyelam di kedalaman 30-35 kilometer untuk mencari lokasi bangkai pesawat yang jatuh pada Senin, 29 Oktober 2018. Foto: Dokumentasi Basarnas Jawa Barat

    Kondisi bawah air di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, di lokasi ditemukannya puing-puing pesawat Lion Air JT 610. Tim Basarnas menyelam di kedalaman 30-35 kilometer untuk mencari lokasi bangkai pesawat yang jatuh pada Senin, 29 Oktober 2018. Foto: Dokumentasi Basarnas Jawa Barat

    TEMPO.CO, Tanjung Karawang - Seorang penyelam yang tergabung dalam tim evakuasi Lion Air JT 610 mengungkap hambatan lain yang harus dihadapi di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. Penyelam ini bersama 17 lainnya datang dari kepolisian dan bergabung bersama lebih dari seratus penyelam lain dari TNI, Basarnas, klub, dan lainnya.

    Baca berita sebelumnya:
    Arus Deras dan Lumpur Tebal Hadang Temuan Black Box VCR Lion Air

    Ibrahim Sajak, nama penyelam ini, mengatakan memiliki kelengkapan tabung oksigen yang membatasinya hanya  bisa menyelam 10 menit. “Paling lama di bawah (dasar laut) itu lima menit,” kata Ibrahim saat berada di atas Kapal Parikesit 7009 milik Satuan Polisi Air Polri di Tanjung Karawang, Jawa Barat pada Jumat, 2 November 2018.

    Ajun Komisaris dari Satuan Gegana Polda Metro Jaya ini menyebut tabung oksigen yang digunakan berkapasitas 200 bar untuk menyelami laut sedalam 35 meter. Ibrahim bersama 17 orang lainnya dari kepolisian akhirnya menyiasati dengan tiga sampai empat kali menyelam dalam sehari. “Karena mengingat waktu juga di bawah laut dengan kapasitas tabung yang ada,” tuturnya. 

    Baca:
    Basarnas: Batas Evakuasi Lion Air JT 610 Minggu 4 November

    Itu pun hanya dengan kemampuan jarak pandang hanya 2-3 meter dan harus berhenti menyelam setelah Pukul 17. Dengan segala keterbatasan itu mereka tetap berusaha mencari dan mengevakuasi korban maupun bagian pesawat.  “Tadi pagi kami menemukan baju, pakaian, dan seatbelt. Kalau kemarin jenazah sempat ditemukan dari angkatan laut,” katanya lagi.

    Secara terpisah, Kepala Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) Muhammad Syaugi menjelaskan hambatan tim evakuasi dalam mencari Balck box kedua milik Lion Air JT 610. Syaugi menjadikan arus deras bawah laut hingga lumpur setebal setengah meter di Tanjung Karawang sebagai alasan.

    Baca:
    Cerita Penyelam Basarnas Aduk Lumpur Cari korban Lion Air JT 610

    "Jangan dibayangkan mudah,” katanya saat berada di Posko evakuasi Lion Air JT 610 di Tanjung Priok, Jakarta, Jumat 2 November 2018. Syaugi menambahkan, “ Walaupun kedalaman laut hanya 35 meter, arusnya cukup deras di situ, belum lagi ombak di permukaan.”

    Syaugi mengatakan arus deras dapat menyebabkan black box berpindah posisi. Untuk itu, kata dia, tim evakuasi saat ini mengandalkan 'ping locater' milik KNKT yang lebih sensitif. "Barang ini kan kecil, nggak mudah nyari barang kecil di laut itu," ucap dia menambahkan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Skenario Satu Arah Pada Arus Mudik 2019 di Tol Jakarta - Cikampek

    Penerapan satu arah ini dilakukan untuk melancarkan arus lalu lintas mudik 2019 dengan memanfaatkan jalur A dan jalur B jalan Tol Jakarta - Cikampek.