Jumat, 16 November 2018

Cerita Penyelam Syahrul Anto Evakuasi Korban Pesawat Jatuh

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyelam bernama Syahrul Anto meninggal saat ikut dalam pencarian pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Jawa Barat, Jumat, 2 November 2018. Syahrul merupakan penyelam sipil dari Indonesia Diving Rescue Team (IDRT). Facebook.com/@Syachrul Anto

    Penyelam bernama Syahrul Anto meninggal saat ikut dalam pencarian pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Jawa Barat, Jumat, 2 November 2018. Syahrul merupakan penyelam sipil dari Indonesia Diving Rescue Team (IDRT). Facebook.com/@Syachrul Anto

    TEMPO.CO, Jakarta - Leader Indonesia Diving Rescue Team (IDRT) Bayu Wardoyo mengatakan Syahrul Anto, adalah penyelam yang andal. Tewasnya Syahrul dalam proses evakuasi jenazah korban pesawat Lion Air jatuh menyebabkan tim IDRT kehilangan salah satu penyelam terbaik. 

    Baca: IDRT Investigasi Penyebab Penyelam yang Gugur Saat Cari Lion Air

    Karena melihat pengalaman dan kemampuan pria berusia 48 tahun itu, IDRT pun langsung mengajaknya untuk ikut mencari korban pesawat Lion Air yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, Senin, 29 Oktober 2018.

    "Tanpa diminta biasanya Syahrul juga pasti mengajukan diri untuk menjadi relawan," kata Bayu saat ditemui di Jakarta International Container Truck II, Jakarta Utara, Sabtu, 3 November 2018.

    Menurut dia, kepedulian Syahrul sangat tinggi. Bahkan, dalam sejumlah kejadian bencana dia selalu mengajukan diri untuk menjadi relawan. "Bencana gempa di Palu kemarin dia juga turun menjadi relawan," ujarnya.

    Bayu mengenang keandalan penyelam Syahrul Anto saat menjadi relawan untuk mencari korban pesawat Air Asia yang jatuh empat tahun lalu, Ahad, 28 Desember 2014. Pesawat A320 dengan nomor penerbangan QZ8501 itu hilang kontak setelah 50 menit lepas landas dari bandar udara Juanda Surabaya.

    Sedikitnya 155 penumpang dan tujuh kru pesawat Air Asia meninggal dalam kecelakaan pesawat yang terjatuh di sekitar Laut Jawa dekat Selat Karimata itu. "Syahrul penyelam yang paling banyak mengangkat jenazah saat pesawat Air Asia jatuh di laut."

    Menurut dia, kemampuan dan pengalaman Syahrul cukup teruji saat penyelaman. Bahkan, saat proses pencarian jenazah korban Air Asia yang medannya begitu sulit bisa dilalui oleh Syahrul.

    Bayu bercerita korban dan badan pesawat Air Asia ada di kedalaman 50 meter di bawah laut. Sedangkan, kepingan pesawat dan korban Lion Air berada di kedalaman 30-35 meter.

    Tantangan dalam proses pencarian jenazah Air Asia juga lebih besar. Sebab, penyelam mesti masuk ke dalam badan pesawat.

    "Air Asia yang terbelah hanya bagian ekor dan kepala," ujarnya. "Jadi penyelam harus masuk di dalam badan pesawat untuk mengangkat korban."

    Sedangkan penyelaman saat pencarian korban Lion Air sama seperti melakukan fun diving sebab pesawat Lion Air hancur berkeping-keping. "Kalau korban pesawat Air Asia banyak yang masih utuh," ucapnya.

    Bayu masih tidak menyangka Syahrul bisa mengalami musibah saat pencarian korban pesawat Lion Air kemarin.

    Baca: Tragedi Lion Air, IDRT Bantah Penyelamnya Gugur karena Dekompresi

    Untuk itu, IDRT masih menginvestigasi penyebab kematian penyelam Syahrul. "Dugaan kami bukan karena dekompresi seperti yang tersebar di media sebelumnya. Kami sedang investigasi penyebab Syahrul meninggal."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.