Selasa, 13 November 2018

Penyebab Gubernur Wahidin Revitalisasi Bangunan di Banten Lama

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Halaman Masjid Agung Banten di Desa Banten Lama, Serang. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Halaman Masjid Agung Banten di Desa Banten Lama, Serang. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Serang -Gubernur Banten Wahidin Halim merealisasikan gagasan mengembalikan kejayaan Banten pada saat ini dengan melakukan revitalisasi bangunan di kawasan Banten Lama  di Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.

    Wahidin menyatakan perlunya menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya tak berdaya menjadi vital (penting) alias revitalisasi karena di tempat ini terdapat banyak situs peninggalan dari Kerajaan Banten.

    Baca : GOR Pajajaran Bakal Dirombak Sekelas Stadion Pakansari

    Diantaranya di Kawasan Banten. Lama itu terdapat Istana Surosoan, Masjid Agung Banten, Situs Istana Kaibon, Benteng Spellwijk, Danau Tasikardi, Meriam Ki Amuk, Pelabuhan Karangantu dan Vihara Avalokitesvara.

    "Kami juga akan membangun pusat kota peradaban, dimulai dari pengkajian sejarah perjuangan Syekh Nawawi Al Bantani," kata Wahidin kepada Tempo, Selasa, 6 November 2018.

    Berdasarkan papan  plang pengerjaan,  penataan Banten Lama  ini dikerjakan  dalam kurun 150 hari dengan biaya Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Banten senilai Rp 70 miliar lebih.

    Warga melihat tembok di komplek keraton Kaibon, Kampung Kroya, Desa Kesunyatan, Kecamatan Kasemen, Serang, Banten, 4 Februari 2016. Keraton Kaibon yang dihancurkan oleh pemerintah Belanda, kini masih terlihat sisa gerbang dan pintu-pintu besar yang ada dalam kompleks istana. Tempo/ Aditia Noviansyah

    Proyek pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur kawasan strategis itu  sedang dikerjakan PT  Citra Agung Utama KSO PT Sangkuriang.

    Pengamatan Tempo para pekerja sedang sibuk menyelesaikan lantai granit di halaman Masjid Agung, sebagian mengecor tiang-tiang lampu dan gapura pintu masuk dengan ornamen khas Banten.

    Sementara itu di halaman itu dipasang pula payung Madinah berwarna putih gading. Ada lebih dari enam payung Madinah sudah  terpasang. 

    Karena lokasi penataan ditutup, Pengamatan Tempo para peziarah ke makam  Sultan Ageng Tirtayasa diperkenankan masuk melalui pintu belakang.

    Pintu belakang ini nantinya menyambung dengan pasar oleh-oleh khas yang berada di belakang mengelilingi Kawasan Banten Lama.

    Simak pula :
    Ini Dua Kendala Tim DVI Identifikasi Jasad Korban Lion Air JT 610

    Seorang pengunjung Niansyah mengatakan senang mendatangi Banten Lama. " Sekarang memang semrawut karena sedang ditata, selain debu, panas alangkah senang kalau Pak Gubernur juga menata pasar dan menghilangkan pengemis,"kata Niansyah.

    Niansyah  membayangkan suasana Madinah dengan payung seperti itu akan terasa atmosfirnya di Banten. "Saya sudah bayangkan nanti megah halaman masjid sementara Masjid Agung dan mercusuar tampak kuno bertahan sesuai aslinya," kata Niansyah ditemui kawasan Banten Lama terkait sejumlah revitalisasi bangunan  itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?