RS Polri Ungkap Penyebab Identifikasi Korban Lion Air Lambat

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Keluarga membacakan doa saat serah-terima jenazah korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta, 5 Oktober 2018. Tim Disaster Victim Indetification (DVI) Mabes Polri berhasil mengidentifikasi 13 korban Lion Air JT 610. Dengan tambahan tersebut, total jenazah yang sudah teridentifikasi sebanyak 27 orang. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Keluarga membacakan doa saat serah-terima jenazah korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta, 5 Oktober 2018. Tim Disaster Victim Indetification (DVI) Mabes Polri berhasil mengidentifikasi 13 korban Lion Air JT 610. Dengan tambahan tersebut, total jenazah yang sudah teridentifikasi sebanyak 27 orang. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim Identifikasi Korban Bencana (DVI) RS Polri butuh waktu lebih lama untuk identifikasi korban Lion Air JT 610 bila sampel tubuh yang diperiksa rusak. Wakil Kepala Rumah Sakit Polri Tingkat I Raden Said Sukanto Komisaris Besar Dokter Hariyanto mengatakan banyak profil DNA korban yang kurang lengkap. 

    Baca: Korban Lion Air Teridentifikasi Bertambah 3 Orang Lagi, Total 82

    Akibat profil DNA yang kurang lengkap, proses identifikasi pun belum dapat dilakukan. Tim VI pun harus melakukan pemeriksaan ulang, yang umumnya sekitar empat-delapan hari. Tetapi jika tidak ada kecocokan, maka eksaminasi membutuhkan waktu tambahan.

    "Tim DVI dan Inafis (unit pemeriksaan sidik jari) masih mengembangkan sampel yang diterima dari posko postmortem, tentu nanti akan diumumkan hasilnya jika sudah ada hasilnya," kata dr Hariyanto, Senin 12 November 2018.

    RS Polri saat ini telah memeriksa 195 kantong jenazah dan masih mengeksaminasi 666 sampel DNA. Tim Inafis juga masih memeriksa belasan sampel sidik jari.

    Dalam kesempatan berbeda, Kepala Bidang Identifikasi Korban Bencana (DVI) Mabes Polri Kombes Polisi drg Lisda Cancer mengatakan proses identifikasi korban bergantung pada kualitas sampel yang diperiksa.

    Informasi DNA, menurut Kombes Lisda, lebih lama tersimpan dalam tulang, dibanding dengan jaringan tubuh lainnya.

    "Data DNA dapat tersimpan dengan baik dalam tulang, dan tidak mudah rusak, dibandingkan dengan jaringan tubuh lain yang mudah rusak karena pembusukan," kata Kombes Pol Lisda Cancer usai jumpa pers di halaman Gedung Sentra Visum dan Medikolegal RS Polri Kramat Jati.

    Alasannya, tulang memiliki lima lapis jaringan, diantaranya peristoneum (lapisan terluar), tulang kompak, tulang spons, endosteum, dan sumsum tulang. Banyaknya lapisan itu dapat menyimpan data DNA lebih baik, dibanding jaringan lain yang mudah rusak, salah satunya karena pembusukan.

    Kombes Lisda menyebut tulang banyak ditemukan pada kantong jenazah yang dikirim pada Jumat, 9 November dan Sabtu 10 November.

    Baca: Basarnas Stop Evakuasi Korban Lion Air, DVI Identifikasi 666 DNA

    Lisda optimistis temuan tersebut dapat mengungkap lebih banyak korban Lion Air JT 610. Hingga hari ke-15 insiden pesawat jatuh itu, tim DVI telah mengidentifikasi 82 penumpang, dan memeriksa 195 kantong jenazah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.