Penjelasan BMKG soal Fenomena Hujan Es di Jakarta

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi hujan es. wikimedia

    Ilustrasi hujan es. wikimedia

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Jupan Royter membenarkan adanya hujan es di sejumlah wilayah di Jakarta.

    "Iya betul, tadi hujan es. Infonya juga sudah disampaikan di akun twitter BPBD DKI Jakarta," kata Jupan saat dihubungi Tempo, Kamis, 22 November 2018.

    Baca: 6 Hujan Es di Indonesia, Ini Daftarnya

    Dalam akun Twitter @BPBDJakarta, disampaikan bahwa fenomena hujan es terjadi di kawasan Thamrin dan Tanah Abang, Jakarta Pusat pada pukul 15.20 WIB. Fenomena tersebut terjadi tak lebih dari lima menit. BPBD juga mengimbau agar masyarakat selalu berhati-hati dalam beraktivitas.

    Cuitan tersebut juga disertai dengan tautan sebuah siaran pers dari Kepala Humas Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika, Hary Tirto Djatmiko. "Fenomena hujan es merupakan fenomena cuaca alamiah yg biasa terjadi," kata Hary dalam keterangan tertulisnya soal hujan es tersebut.

    Hary menuturkan hujan es yang disertai kilatan petir dan angin kencang lebih banyak terjadi di musim transisi atau pancaroba dari musim kemarau ke musim hujan ataupun sebaliknya. Ia juga mengatakan fenomena tersebut terjadi dengan durasi yang singkat.

    Baca: Waspada, Hujan Deras Guyur Jakarta

    Terjadinya fenomena tersebut, kata Hary, dapat diketahui dari beberapa indikasi. Indikasi tersebut antara lain:

    - Satu hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah. Udara terasa panas dan gerah diakibatkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat ditunjukkan oleh nilai perbedaan suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00 LT (lebih dari 4.5 derajat Celcius) disertai dengan kelembaban yang cukup tinggi ditunjukkan oleh nilai kelembaban udara di lapisan 700 mb (lebih dari 60 persen)

    - Mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan cumulus (awan putih berlapis–lapis) dan diantara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu–abu menjulang tinggi seperti bunga kol. Pada tahap berikutnya, awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu–abu dan hitam yang dikenal dengan awan Cb atau cumulonimbus

    - Pepohonan ada dahan atau ranting yang mulai bergoyang cepat dan terasa ada sentuhan udara dingin di sekitar

    - Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras tiba – tiba, apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari tempat

    - Jika 1–3 hari berturut – turut tidak ada hujan pada musim transisi/pancaroba/penghujan, maka ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak

    Baca: BMKG: Hujan Es dan Puting Beliung Biasa Terjadi Saat Pancaroba


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.