Pertimbangan Intelijen, Polisi: Tunda Reuni Akbar 212 Tandingan

Reporter:
Editor:

Ali Anwar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapitra Ampera (Kiri), bersama Hasto Kristiyanto (tengah) dan Sidarto Danusubroto dalam acara penyerahan dokumen persyaratan caleg di Gedung DPP PDIP, Jakarta, Selasa, 24 Juli 2018. TEMPO/Ryan Dwiky Anggriawan.

    Kapitra Ampera (Kiri), bersama Hasto Kristiyanto (tengah) dan Sidarto Danusubroto dalam acara penyerahan dokumen persyaratan caleg di Gedung DPP PDIP, Jakarta, Selasa, 24 Juli 2018. TEMPO/Ryan Dwiky Anggriawan.

    TEMPO.CO, Jakarta - Polisi menyarankan agar aksi tandingan Reuni Akbar 212 yang dipimpim bekas pengacara Rizieq Shihab, Kapitra Ampera, serta beberapa pimpinan pondok pesantren di Jakarta agar ditunda.

    Baca juga: Pengamanan Reuni Akbar 212, Polisi Kerahkan 20 Ribu Personel

    "Kami menyarankan kepada panitia (Reuni Akbar 212 tandingan) agar ditunda dengan memperhatikan masalah keamanan," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Jumat, 30 November 2018.

    Menurut Argo, pertimbangan dari intelejen menjadi dasar polisi mengeluarkan saran tersebut . Sebelumnya, polisi telah mendapatkan pemberitahuan aksi tandingan itu pada Rabu, 28 November 2018.

    Saat itu Kapitra yang kini menjadi calon anggota legislatif dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bersama para pimpinan pondok pesantren di Jakarta mendatangi Polda Metro Jaya.

    Aksi tandingan diberi tajuk Aksi Kontemplasi 212 dan Pencerahan Anak Bangsa dengan jumlah massa peserta diklaim dua hingga empat juta orang. "Aksi Kontemplasi 212 dan Pencerahan Anak Bangsa akan diselenggarakan di tempat dan waktu yang sama (dengan Reuni Akbar 212)," kata Kapitra di Balai Wartawan Polda Metro Jaya, Rabu, 28 November 2018. 

    Kapitra mengatakan merasa perlu membuat kegiatan tandingan karena menilai Aksi 212 telah menyimpang jauh dari konteks dan ajaran kemuliaan Islam. Menurut dia, Reuni Akbar 212 tak lebih dari acara untuk merayakan kejahatan orang lain yang saat ini sedang menjalani hukuman atas kejahatannya.

    Baca juga: Eks Pengacara Rizieq Shihab Akan Bikin Tandingan Reuni Akbar 212

    "Itu bagi kami terlalu kejam. Kami melihat Islam yang seolah-olah penuh dendam dan amarah," ujar Kapitra. Ia merujuk demonstrasi besar 2 Desember 2016 yang menuntut Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dipenjara atas tuduhan penistaan agama. Ahok akhirnya divonis bersalah.

    Penanggung Jawab Reuni Akbar 212, Slamet Maarif, mengatakan acara itu akan berlangsung pada Ahad, 2 Desember 2018, pukul 03.00-12. Panitia mengisi reuni ini dengan acara salat tahajud, salat subuh berjamaah, serta zikir dan salawat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarif Baru Ojek Online di Tiap Zonasi yang Berlaku 18 Juni 2019

    Kementerian Perhubungan telah menetapkan tarif baru ojek online berdasarkan pembagian zona. Kemehub mengefektifkan regulasi itu pada 18 Juni 2019.