Begini Operator MRT Jepang Sukses Menggenjot Pendapatan Non-Tiket

Reporter:
Editor:

Untung Widyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para penumpang berdesakan menunggu kereta untuk merayakan tahun baru di kampung halaman atau mengisi liburan, di Stasiun JR Tokyo, Jepang, 27 Desember 2014. KAZUHIRO Nogi/AFP/Getty Images

    Para penumpang berdesakan menunggu kereta untuk merayakan tahun baru di kampung halaman atau mengisi liburan, di Stasiun JR Tokyo, Jepang, 27 Desember 2014. KAZUHIRO Nogi/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO, Tokyo - Operator mass rapid transit (MRT) Jepang sukses mendulang keuntungan  dari pendapatan non-farebox  alias penerimaan di luar penjualan tiket kepada penumpang.  

    Baca juga: MRT Jakarta Tiru Jepang, Genjot Pendapatan Non-Tiket

    Pada 2015, Kementerian Tanah, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang mencatat rata-rata pendapatan bisnis non-tiket dari 16 operator besar MRT  sekitar 68,8 persen. Adapun pendapatan dari sisi tiket hanya sekitar 31,2 persen.

    Keberhasilan itu menjadi contoh operator MRT dari berbagai negara, termasuk PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta.

    Pada pekan terakhir November 2018, PT MRT Jakarta mengajak  Tempo dan empat jurnalis lainnya mendapatkan kesempatan untuk mempelajari sistem dan bisnis kereta di Jepang. Tempo juga mengunjungi sejumlah stasiun kereta, seperti Stasiun Hakata City, Osaka, dan Shinjuku.

    Ketiga stasiun tersebut dipadati oleh berbagai iklan. Papan iklan digital pelbagai ukuran terpacak di dinding dan pembatas stasiun.

    Mayoritas stasiun besar di Jepang juga dilengkapi pusat belanja, restoran, toko serba ada, toko obat, hingga toko oleh-oleh. Walhasil, yang mengunjungi stasiun bukan hanya para penumpang kereta. Stasiun besar pun selalu ramai oleh mereka yang hendak belanja

    Salah satu operator yang mengandalkan pendapatan dari bisnis non-tiket ialah Kyushu Railway Company atau Japan Railway (JR) Kyushu. Pada tahun lalu, operator kereta itu meraup pendapatan sebesar 413 miliar yen atau sekitar Rp 52 triliun.

    Dari pendapatan itu, kontribusi penghasilan non-tiketnya sebesar 262,2 miliar yen atau 63,4 persen. Sedangkan pendapatan dari tiket sebesar 151 miliar yen atau 36,6 persen.

    Manager Planning and International Affairs Kyushu Railway Company, Makoto Kawano, menjelaskan bahwa saat ini JR Kyushu telah memiliki 37 anak perusahaan.

    “Bisnis kami tidak hanya transportasi (kereta), tapi kami juga mengelola bisnis di stasiun hingga pertanian,” ujar Kawano seperti ditulis Koran Tempo edisi Senin, 3 Desember 2018.

    Kawano menjelaskan bahwa bisnis non-tiket, antara lain, berasal dari pengelolaan Stasiun Hakata City. Stasiun itu saat ini dikelola oleh anak perusahaan JR Kyushu, yaitu JR Hakata City.

    Simak juga: Nyaman Naiki MRT Jakarta, Ini Permintaan Jokowi ke Anies Baswedan

    Director General Manager Sales Department JR Hakata City, Yusuke Nigo, menuturkan bahwa Stasiun Hakata City memiliki luas 200 ribu meter persegi. Saat ini, ada 412 tenant  atau penyewa tempat usaha di stasiun itu.

    Sekitar 80 persennya menjalankan usaha retail, seperti swalayan, toko serba ada, dan toko obat. Adapun sisanya adalah restoran. Tahun lalu, omzet dari tenant di stasiun itu mencapai 113 miliar yen.  Itu contoh keberhasilan operator MRT Japan Railway (JR) Kyushu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.