5 Hal Unik Reuni Akbar 212: Heboh Awan sampai Untung Rp 15 Juta

Reporter:
Editor:

Untung Widyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa Persaudaraan Alumni (PA) 212 memadati kawasan Monumen Nasional (Monas) saat menghadiri acara Reuni Akbar 212, di Jakarta, Ahad, 2 Desember 2018. TEMPO/Subekti.

    Massa Persaudaraan Alumni (PA) 212 memadati kawasan Monumen Nasional (Monas) saat menghadiri acara Reuni Akbar 212, di Jakarta, Ahad, 2 Desember 2018. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta – Juru bicara Persaudaraan Alumni 212, Novel Bamukmin mengklaim acara Reuni Akbar 212 di Lapangan Monas, Jakarta pada 2 Desember 2018 dihadiri 3-4 juta orang.

    Baca juga: Reuni Akbar 212, Penumpang KRL Melonjak Hingga 15 Kali Lipat

    Pada acara yang berlangsung sejak pukul 03.00 sampai dengan 12.00 itu,  hadir  sejumlah pejabat dan tokoh yang mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Antara lain Ketua Majelis Permusyawaratam Rakyat (MPR)  Zulkifli Hasan, dan dua Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat yaitu Fadli Zonn dan Fahri Hamzah. Selain itu ada Amien Rais dan Prabowo Subianto.

    Tempo yang meliput Reuni Akbar 212,  sejak sehari sebelumnya dan pada puncak acara di Lapangan Monas, mencatat lima hal unik. Yakni:

    1. Massa dihebohkan oleh bentuk awan

    Di pelataran Monas, massa dibuat riuh karena bentuk awan. Awan yang menggantung di langit Jakarta dianggap mirip dengan lafaz Allah. Seorang wartawan salah satu media daring, Indra K, mengatakan turut menyaksikan awan itu. Ia mengenang, awan yang dianggap mirip lafaz ini muncul pukul 08.00 WIB.

    Dalam rekonstruksi ceritanya, massa yang berkumpul di sekitar halaman Monas sempat menghentikan aktivitas. Mereka bersama-sama melihat langit dan memotret awan tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.