Sabtu, 15 Desember 2018

Cerita dan Harapan Pedagang dari Reuni 212 di Kawasan Monas

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peserta Reuni 212 berpose dengan latar bendera tauhid pada agenda reuni 212 di Monas, Jakarta Pusat, Ahad, 2 Desember 2018. Acara Reuni Akbar 212 berlangsung di Monas mulai pukul 03.00 WIB hingga 12.00 WIB pada Ahad, 2 Desember 2018. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Peserta Reuni 212 berpose dengan latar bendera tauhid pada agenda reuni 212 di Monas, Jakarta Pusat, Ahad, 2 Desember 2018. Acara Reuni Akbar 212 berlangsung di Monas mulai pukul 03.00 WIB hingga 12.00 WIB pada Ahad, 2 Desember 2018. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta -Para pedagang di sekitar area Monumen Nasional atau Monas merasakan dampak banyaknya massa yang ikut dalam Reuni 212 pada Ahad, 2 Desember 2018 lalu. Mukhlis, 40 tahun, salah satunya.

    "Reuni 212 memang acara yang ditunggu pedagang karena kami kebagian keuntungan dan berkahnya," kata Mukhlis saat ditemui di sekitar kawasan Masjid Istiqlal, Jumat, 7 Desember 2018.
    Baca :

    Menurut Mukhlis, reuni 212 yang dibumbui kata akbar kemarin lebih ramai dari tahun sebelumnya. Ia menaksir jutaan orang tumpah ruah di kawasan Monas dan sekitarnya. "Bisa dilihat sendiri banyaknya orang yang datang."

    Ia menuturkan pada reuni kemarin ia mendapatkan untung bersih Rp 4 juta untuk seluruh barang yabg dijualnya seperti bendera, peci dan topi serta ikat kepala tauhid. Bahkan, 1000 bendera tauhid yang dibawanya ludes terjual. "Kalau bendera ada enam orang yang bantu menjualnya."

    Reuni Akbar 212 dilangsungkan di Monas, Jakarta Pusat, Ahad, 2 Desember 2018. Ribuan warga memadati Lapangan Monas dan sekitarnya. SUBEKTI

    Mukhlis sendiri saat reuni menjual 100 bendera yang dibandrol seharga Rp 40 ribu per lembar ukuran 60x100 sentimeter. Sedangkan, yang paling banyak terjual adalah topi tauhid yang dibandrol Rp 30-35 ribu. "Topi terjual sekitar 200," ujarnya.

    Mukhlis bersama enam orang temannya merupakan penjual atribut berlambang tauhid musiman. Ia hanya menjual atribut tersebut jika ada aksi massa di kawasan Monas.

    Jika tidak ada aksi, kata dia, maka dirinya hanya menjual aksesoris yang keuntungannya hanya ratusan ribu. "Paling besar kalau jual aksesoris untuk Rp 500 ribu per hari. Itu juga kalau ada rombongan yang kunjungan ke Monas atau Istiqlal."
    Simak juga :

    Sementara, penjual minuman di kawasan Monas, Deden, Suseno, 27 tahun, pun merasakan peningkatan omset saat reuni digelar. Ia mengatakan omsetnya naik empat dari hari biasanya.

    Pada acara Reuni 212 Ahad lalu itu, Deden mengaku mendapatkan keuntungan hingga Rp 400 ribu. "Kemarin massa banyak sekali. Jalan sampai susah," dia mengenang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sayap OPM Kelompok Egianus Kogoya Meneror Pekerjaan Trans Papua

    Salah satu sayap OPM yang dipimpin oleh Egianus Kogoya menyerang proyek Trans Papua yang menjadi program unggulan Jokowi.