Serapan Anggaran Masih 67,64 Persen, Sekda DKI: Mengalir Saja

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekretaris Daerah DKI Saefullah meninjau lokasi pembangunan tanggul laut NCICD di Kalibaru, Jakarta Utara, 10 Agustus 2017. TEMPO/Friski Riana

    Sekretaris Daerah DKI Saefullah meninjau lokasi pembangunan tanggul laut NCICD di Kalibaru, Jakarta Utara, 10 Agustus 2017. TEMPO/Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah menanggapi soal serapan anggaran yang masih di angka 67,64 persen. Tak ada upaya yang dia paparkan untuk bisa meningkatkan persentase penyerapan anggaran.

    Baca: Serapan APBD Baru 54 Persen, Anies Baswedan Ungkap Penyebabnya

    "Mengalir saja sesuai dengan aturan," kata Saefullah di Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin, 17 Desember 2018.

    Saefullah mengatakan, saat ini tagihan proyek berangsur-angsur masuk ke Pemerintah DKI. Misalnya, kata dia, tagihan proyek rehabilitasi berat dan total fisik sekolah. Pemerintah provinsi terus memantau realisasi proyek.

    "Ini kan minggu-minggu penentuan. Sampai minggu depan ya, masih ada beberapa hari," ujarnya.

    Saefullah optimistis, serapan anggaran 2018 akan sama seperti tahun sebelumnya, yaitu 83,83 persen. Di laman web publik.bapedadki.net hingga malam ini mencatat, penyerapan sebesar Rp 50,79 triliun atau 67,64 persen dari total anggaran Rp 75,09 triliun.

    Baca: Temukan Penyebab Penyerapan APBD DKI Rendah, Sekda Bingung

    Sebelumnya, Gubernur DKI Anies Baswedan mengutarakan serapan anggaran pemerintahannya seolah-olah rendah karena banyak proyek yang belum ditagih pembayarannya. Karena itu, ia berencana mempercepat program 2019 agar mulai dikerjakan akhir 2018. Misalnya, kata Anies, dengan memulai proses lelang sejumlah proyek Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2019 pada Desember 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Ini Tanda-Tanda Anda Terjangkit Cacar Monyet

    Cacar monyet atau monkey pox merupakan penyakit yang berasal dari sisi Barat Afrika. Penyakit ini menular melalui monyet, tikus Gambia, dan tupai.