BNNP DKI Sebut Tembakau Gorila Jadi Konsumsi Pelajar Jakarta

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi memeriksa barang bukti bahan tembakau gorilla saat penggerebekan pabrik ganja sintetis tersebut di Denpasar, Bali, 22 Maret 2018. Polisi bersama petugas Bea dan Cukai Soekarno Hatta dan Ngurah Rai mengungkap pabrik narkoba itu berdasarkan pengiriman paket narkoba golongan satu dari China. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana

    Polisi memeriksa barang bukti bahan tembakau gorilla saat penggerebekan pabrik ganja sintetis tersebut di Denpasar, Bali, 22 Maret 2018. Polisi bersama petugas Bea dan Cukai Soekarno Hatta dan Ngurah Rai mengungkap pabrik narkoba itu berdasarkan pengiriman paket narkoba golongan satu dari China. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana

    TEMPO.CO, Jakarta – Pelajar di Jakarta menduduki posisi teratas dalam konsumsi narkoba jenis tembakau gorila. Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DKI Jakarta menyatakan para remaja ketagihan mengkonsumsi ganja sintetis itu lantaran murah.

    Baca: BNN: Bandar Tembakau Gorila Sudah Masuk Depok

    “Padahal mereka tidak tahu kalau itu ganja sintetis,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP DKI Jakarta Khrisna Anggara di kantornya, Kamis, 20 Desember 2018.

    Khrisna mengatakan tembakau gorila atau ganja sintetis mengandung senyawa yang dapat meningkatkan efek toksik. Bila dikonsumsi, dapat menimbulkan ancaman bagi tubuh.

    Dari hasil penelaahan di lapangan, menurut Khrisna, pengguna narkotika jenis tembakau gorila tersebut tak memiliki pengetahuan soal barang haram yang dikonsumsinya. Bahkan, informasi yang beredar acap keliru.

    Tembakau gorila, menurut Khrisna, sering dianggap sebagai rokok herbal. Penyebutan rokok herbal ini kerap digunakan pengedar untuk mengelabui calon pecandu. Bekal pengetahuan yang minim terhadap jenis narkotika dan bahayanya ini membuat BNNP DKI menggencarkan kegiatan edukasi di sejumlah sekolah sepanjang 2018.

    “Tahun ini kami punya program sosialisasi di 104 sekolah,” ujar dia. Salah satu sosialisasi tersebut adalah menyebarkan informasi soal gawatnya peredaran nakotika, termasuk ganja sintetis alias tembakau gorila.

    Baca: Awas, Pakai Tembakau Gorila Memunculkan Ide Bunuh Diri

    Selain sosialisasi bahaya tembakau gorila BNNP DKI melakukan monitoring di 68 sekolah di DKI, baik SMP, SMA, maupun SMK. Dari hasil monitoring, BNNP menemukan pelajar cenderung menyalahgunakan narkoba untuk tawuran. BNNP juga mendeteksi para penggunaan narkoba di kalangan pelajar dengan melaksanakan tes urine mendadak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.