Kisah 14 Orang Satu Keluarga Jadi Korban Tsunami Selat Sunda

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pantauan udara dari lokasi terjadinya tsunami di Pantai Tanjung Lesung, Pantai Sumur, Pantai Teluk Lada, Pantai Panimbang, dan Pantai Carita di Kabupaten Pandeglang, Banten pada Ahad, 23 Desember 2018. Tsunami ini terasa dampaknya hingga kawasan Pantai Anyer dan Lampung. TEMPO/Syafiul Hadi

    Suasana pantauan udara dari lokasi terjadinya tsunami di Pantai Tanjung Lesung, Pantai Sumur, Pantai Teluk Lada, Pantai Panimbang, dan Pantai Carita di Kabupaten Pandeglang, Banten pada Ahad, 23 Desember 2018. Tsunami ini terasa dampaknya hingga kawasan Pantai Anyer dan Lampung. TEMPO/Syafiul Hadi

    TEMPO.CO, Jakarta -Rombongan satu keluarga yang terdiri dari 14 orang menjadi korban tsunami Selat Sunda yang menerjang kawasan pantai di Banten, dan Lampung pada Sabtu malam, 22 Desember 2018 lalu.

    Rombongan itu dibawa oleh Iis, 38 tahun, karyawan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan.

    Baca : Tsunami Selat Sunda, 6 Korban Jalani Operasi di RSUD Tarakan

    Iis membawa orang tua dan mertua serta sanak-saudara ketika menghadiri acara gathering tahunan perusahaannya. Acara itu digelar di Pantai Anyer, Serang, Banten. Rombongan itu terdiri dari Anton, Iis, Arya, Jihan, Vira, Neneng, Wiwin, Ragi, Eva, Via, Halimah, Titin, Rafa, Fikri, Iyan.

    "Orang tua dan mertuanya istilahnya ditraktir," kata seorang saudara Iis, Neni 64 tahun, di Instalasi Gawat Darurat RSUD Tarakan Jakarta, Senin, 24 Desember 2018.

    Iis merupakan warga Jalan Tomang Pulo RT16/RW005, Jakarta Barat. Neni berujar, Iis menyewakan mobil untuk keluarga agar bisa turut berlibur dengannya.

    Iis harus kehilangan tiga adik iparnya akibat terjangan tsunami. Ketiganya yakni Eva, Via dan Rafa. Jenazah sudah dikuburkan pagi ini. Sedangkan dua orang yakni Anton dan Ragi masih belum ditemukan. Anton merupakan suami Iis.

    Mayoritas korban luka-luka dari rombongan itu dirawat di RSUD Tarakan Jakarta, termasuk Iil. Sedangkan satu orang dirawat di Serang, Banten.

    "Iis alhamdulillah selamat," ucap Neni.

    Sebanyak 21 pegawai koperasi dan tiga karyawan koperasi RSUD Tarakan Jakarta mengadakan gathering tahunan di Pantai Anyer, Serang, Banten atau ketika tsunami menerjang. Para karyawan itu membawa serta keluarga ke dalam acara.

    Simak pula :
    Ayah Lega, Batu Selamatkan Anaknya dari Tsunami Selat Sunda

    Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan Jakarta Dian Ekowati mengatakan, secara keseluruhan, termasuk karyawan dari BNI, rombongan gathering di Pantai Anyer berjumlah 83 orang.

    Dian mengatakan, dua orang korban tsunami Selat Sunda masih di rawat di Instalasi Gawat Darurat dan enam orang masih menjalani operasi. "Yang masih operasi lokasinya ada fraktur di kaki, fraktur di tangan, dan fraktur ekstremitas," kata Dian, Senin, 24 Desember 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.