Sekda DKI: Beban Kerja Tambah Setelah Wagub DKI Sandiaga Mundur

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekda Jakarta Saefullah bersama Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta Sandiaga Uno saat meninjau jalan layang Pancoran, Jakarta, 14 Januari 2018. Sandi menargetkan jalan layang yang dibuat untuk mengurai kemacetan di sekitar perempatan Pancoran. TEMPO/ Naufal Dwihimawan Adjiditho

    Sekda Jakarta Saefullah bersama Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta Sandiaga Uno saat meninjau jalan layang Pancoran, Jakarta, 14 Januari 2018. Sandi menargetkan jalan layang yang dibuat untuk mengurai kemacetan di sekitar perempatan Pancoran. TEMPO/ Naufal Dwihimawan Adjiditho

    TEMPO.CO, Jakarta -Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah menyatakan, beban kerjanya bertambah sejak kursi Wakil Gubernur atau Wagub DKI ditinggalkan Sandiaga Uno.

    Sekda Saefullah mencontohkan posisinya sebagai inspektur upacara dalam peringatan Hari Ibu ke-90 hari ini yang menggantikan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

    Baca : Babak Baru Pencarian Wagub DKI Pengganti Sandiaga Uno

    "Beban kerja pasti bertambah ya. Itu tidak mungkin dipungkiri," kata Saefullah di lapangan Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Rabu, 26 Desember 2018.

    Padahal, seharusnya wakil gubernur yang menggantikan Anies ketika berhalangan datang ke acara tertentu. Sekretaris Daerah DKI, lanjut Saefullah, baru mewakili pemerintah daerah bila wagub DKI tak bisa menghadiri undangan acara.

    Meski demikian, Saefullah merasa tak masalah dengan tugas wagub yang diberikan kepadanya. Dia berujar apa yang dikerjakannya itu bentuk pengabdian kepada masyarakat.

    "Kita sudah pasang badan buat masyarakat. Tidak ada kata capai sepanjang kita menikmati pelayanan masyarakat," ujar dia.

    Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) belum menentukan dua nama calon wagub DKI. Partai pengusung Anies-Sandiaga ini menggelar pertemuan pada 5 November 2018.

    Hasil pertemuan menyepakati calon Wagub DKI berasal dari kader PKS. Namun, harus ada seleksi oleh tim uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) sebelum nama calon diusulkan ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI.

    Simak pula :
    Bursa Wagub DKI, Agung Yulianto Sebut Sudah Safari ke DPRD DKI

    Belakangan dua partai ini justru beda pendapat soal makna fit and proper test. Pembahasan kembali alot.

    PKS dan Gerindra belum duduk bersama lagi menindaklanjuti proses seleksi calon Wagub DKI. Pertemuan yang diagendakan 4 Desember 2018 ditunda karena anggota dewan harus menjalani bimbingan teknis (bimtek) di Semarang, Jawa Tengah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Skenario Satu Arah Pada Arus Mudik 2019 di Tol Jakarta - Cikampek

    Penerapan satu arah ini dilakukan untuk melancarkan arus lalu lintas mudik 2019 dengan memanfaatkan jalur A dan jalur B jalan Tol Jakarta - Cikampek.