Pesan Terakhir Korban Pembunuhan di Apartemen Green Pramuka

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pembunuhan. shutterstock.com

    Ilustrasi pembunuhan. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta – Korban pembunuhan di Apartemen Green Pramuka City, Nurhayati, sempat melayangkan pesan WhatsApp kepada kakak kandungnya, Nurlaila, 30 menit sebelum dibunuh. 

    Baca: Korban Pembunuhan di Green Pramuka Sempat Kirim Foto Keluarga

    Nurlaila mengatakan pesan tersebut berisi janji adiknya mentransfer uang makan mingguan kepadanya pada Sabtu lalu, 5 Januari 2019. NUrhayati berjanji akan mengirim uang pada malam itu 

    "Dia bilang kalau sudah transfer akan dikabarin," kata Nurlaila saat ditemui Tempo di rumahnya, RT 11 RW 13, Cilincing, Jakarta Utara, Selasa, 8 Januari 2019. Nurlaila menunjukkan, pesan WhatsApp itu berisi kalimat yang cukup singkat dan jelas.

    Adapun pesan itu diterimanya pukul 17.29 WIB. Sepanjang malam, Nurlaila mengaku menunggu-nunggu kabar adiknya.

    Ia mengatakan Nurhayati tak memberikan kabar lagi. Hingga dinihari, 6 Januari, ia baru memperoleh kabar bila adiknya dibunuh oleh seseorang bernama Haris Prasnastyadi di apartemennya, Green Pramuka City.

    Nurlaila sangat terpukul dengan kepergian adik bungsunya tersebut.  Nurhayati adalah tulang punggung keluarganya.

    Anak bungsu itu menyokong uang makan dan keperluan sehari-hari kedua kakaknya, Nurlaila dan Aman. Selain itu, Nurhayati juga membiayai uang sekolah tiga ponakannya. Dalam sepekan, ia selalu mengirim duit untuk keluarga kakaknya, yang .

    Baca: Korban Pembunuhan di Green Pramuka Tulang Punggung Keluarga

    Nurhayati menjadi korban pembunuhan pada 5 Januari 2018. Perempuan itu diserang oleh pria bersenjata tajam di lorong apartemennya di lantai 16 tower Chrysant Apartemen Green Pramuka City. Mantan petugas keamanan apartemen, Haris Prasnastyadi ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan Nurhayati. Pemuda 24 tahun itu menusuk Nurhayati karena sakit hati ditolak cintanya.  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menolak Lupa, 11 Kasus Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu

    Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menilai pengungkapan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu tak mengalami kemajuan.