Flyover Cengkareng Dibuka, Warga: Sekarang Tidak Ada Bunyi Lagi

Reporter:
Editor:

Suseno

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Flyover Rawa Buaya pada Kamis pagi, 27 Desember 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Flyover Rawa Buaya pada Kamis pagi, 27 Desember 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta – Perbaikan flyover Cengkareng sudah selesai dan bisa dilintasi kendaraan. Sebelumnya jembatan layang itu ditutup karena ada perbaikan untuk mengganti pot bearing dan rubber expansion joint.

    Baca : Bantah Flyover Cengkareng Retak, PUPR: Pemeliharaan Jembatan

    Seorang pengemudi ojek biasa melintas di jembatan itu mengatakan, sekarang sudah tidak ada bunyi yang membuat khawatir lagi. Sebelum ada perbaikan dia kerap mendengar suara yang cukup keras saat melintas di sana. "Bunyinya duk, duk begitu. Sekarang sudah tidak ada suara," kata pengojek yang mengaku bernama Bewok itu. Jumat siang, 11 Januari 2019.

    Berdasarkan pantauan Tempo, besi-besi di samping beton penyangga flyover tampak masih terpasang. Besi-besi itu berada di sekitar ujung flyover.

    Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) III Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VI Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Erwin mengatakan jembatan layang bisa dilalui kendaraan sejak kemarin. "Sudah open traffic kemarin malam jam 23.00," kata Erwin.

    Perbaikan di flyover mencakup penggantian landasan (pot bearing), sambungan siar muai (expansion joint) pada pilar 4 dan pilar 11 dari total keseluruhan berjumlah 14 pilar.

    Simak pula : 
    Wali Kota Jakarta Barat: Retak, Flyover Cengkareng Ditutup

    Awalnya PUPR menargetkan perbaikan flyover Cengkareng B yang berada di ruas Jalan Nasional Lingkar Barat tersebut dilaksanakan dalam waktu 8 hari. Terhitung sejak 27 Desember 2018 dan ditargetkan rampung pada 3 Januari 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.