Polisi Bekuk 7 Pemilik Toko Kosmetik yang Menjual Obat Ilegal

Reporter:
Editor:

Suseno

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono (tengah), didampingi anggota BPOM DKI, Zulkaranain (kedua kanan kemeja biru), menggelar konferensi pers penangkapan tujuh orang pemilik gerai kosmetik yang menjual obat-obatan terlarang di Jakarta. Konferensi pers digelar di Direktorat Reserse Kriminal Khusus pada Kamis, 7 Februari 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono (tengah), didampingi anggota BPOM DKI, Zulkaranain (kedua kanan kemeja biru), menggelar konferensi pers penangkapan tujuh orang pemilik gerai kosmetik yang menjual obat-obatan terlarang di Jakarta. Konferensi pers digelar di Direktorat Reserse Kriminal Khusus pada Kamis, 7 Februari 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya menangkap tujuh orang pemilik gerai kosmetik yang menjual obat ilegal di Jakarta. Sebeb obat-obatan itu termasuk golongan G yang tidak dijual secara bebas.

    Baca: Jamu dan Obat Ilegal Serbu Jakarta, BPOM Sita 1,6 Juta Bungkus

    "Temuan ini merupakan pengembangan dari kasus di Kembangan, Jakarta Barat," kata juru bicara Polda Metro Komisaris Besar Argo Yuwono, Kamis, 7 Februari 2019.

    Obat yang dijual tujuh orang itu adalah jenis tremadol, hexymer, alprazolam, trihexyphenidyl, dan double LL. Polisi menyita 13.003 butir obat sebagai barang bukti. Obat-obatan itu dijual per paket seharga Rp 10-25 ribu. Masing-masing paket berisi 5 butir. Polisi juga menyita uang Rp 5,6 juta yang diduga hasil penjualan obat-obatan itu.

    Adapun tujuh pemilik gerai sudah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah MY, 19 tahun, MD (18), MA (28), HS (29), MS (29), dan SF (29). Dalam pemeriksaan polisi, para pemilik toko mengatakan menerima barang secara rutin dari sales. Barang terlarang ini disinyalir telah beredar selama 6 bulan.

    Argo menjelaskan, para tersangka mengedarkan obat-obatan itu tanpa surat izin dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dan tanpa surat dokter. Mereka juga tidak memiliki surat izin sebagai apoteker.

    Anggota BPOM DKI Jakarta, Zulkarnain, mengatakan obat-obatan ini sebagian sudah tidak diproduksi. Bila dikonsumsi, obat jenis G akan merangsang efek penenang. Efek inilah yang kerap disalahgunakan pengguna.

    Baca: Polisi Tangkap Dua Pengedar Obat Ilegal di Jakbar dan Bekasi

    Para tersangka terancam Pasal 197 juncto Pasal 106 ayat (1) UU nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun penjara dan denda Rp 1,5 miliar. Polisi juga menggunakan Pasal 62 ayat (1) juncto Pasal 8 ayat (1) UU nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.

    Para tersangka penjual obat ilegal ini diancam hukuman maksimal kurung 5 dan denda Rp 2 miliar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.