Jembatan Pulau C Reklamasi-Dadap di Teluk Jakarta Segera Dibangun

Reporter:
Editor:

Ali Anwar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berusaha menghadang alat berat milik Satuan Polisi Pamong Praja saat akan melakukan penggusuran terhadap rumah warga di kawasan Dadap, Tangerang, Selasa (30/10). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Warga berusaha menghadang alat berat milik Satuan Polisi Pamong Praja saat akan melakukan penggusuran terhadap rumah warga di kawasan Dadap, Tangerang, Selasa (30/10). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Serang – Proyek pembangunan jembatan pulau C reklamasi di Teluk Jakarta Utara ke Pantai Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, segera dibangun. Bila jembatan dibangun mulai Maret 2019, maka akan selesai dan beroperasi pada 2020.

    Baca juga: Alasan Warga Nelayan Dadap Protes Proyek Jembatan Pulau Reklamasi

    Kepala Bidang Penataan Ruang Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Banten, Nurmutaqin mengatakan, Pemerintah Provinsi Banten dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan (Pusjatan) Kementrian PUPR saat ini sedang melakukan testpile (uji tiang pancang)  pembangunan jembatan sepanjang 1,4 kilometer tersebut.

    Menurut Nurmuttaqin, jembatan tersebut akan terhubung dengan banyak jalan di Kabupaten Tangerang seperti jalan di wilayah Kosambi-Teluk Naga, jalur alternatif baru kendaraan dari Tangerang ke Jakarta dan akan terkoneksi dengan arus kendaraan dari arah Bandara Soekarno-Hatta.

    "Semua izin sudah lengkap, seperti izin Mendirikan Prasarana (IMP) dari Pemda DKI Jakarta, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Kabupaten Tangerang dan persetujuan pembangunan jembatan dari Gubernur Banten. Pada prinsipnya, kami dari Pemprov Banten hanya mengawasi semua prosesnya saja," ujar Mutaqqin Selasa, 19 Februari 2019.

    Menurutnya, sumber pendanaan pembangunan jembatan sepenuhnya berasal dari pengembang, yakni PT Kukuh Mandiri Lestari sebesar Rp 700 miliar. “Setelah pembangunannya selesai, jembatan itu akan diserahkan ke Pemerintah Provinsi Banten dan DKI Jakarta sesuai kewenangan di masing-masing wilayah.

    Ia mengatakan, selama proses pembangunan, pihaknya meyakini tidak akan mengganggu aktivitas warga yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan. "Selama proses pembangunan jembatan dipastikan tidak mengganggu aktivitas para nelayan dan tidak mengganggu hutan mangrove, kami harus pastikan agar para nelayan dan ekositem laut tidak tetap terjaga," katanya.

    Kepala Balai Geoteknik Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan (Pusjatan) Kementrian PUPR, Fahmi Aldiamar menyatakan, pihaknya masih melakukan penelitian terhadap kontur tanah dan kedalaman beton atau tiang pancang jembatan yang akan dibangun. “Dalam perencanaan pembangunan jembatan tersebut diperkirakan akan mampu bertahan selama kurang lebih 100 tahun,” katanya.

    Sementara itu, Operasional Manager PT Waskita yang akan melaksanakan pembangunan jembatan tersebut, Hermanto menargetkan, pembangunan jembatan selebar 21 meter itu akan dilaksanakan selama satu tahun, sementara operasional ditargetkan pada tahun 2020. "Target pembangunan setahun, kita masih nunggu hasil testpile dulu, operasional 2020, di atas kita gunakan kontruksi girder, yang di bawah stilbok, full casing, beton full ke bawah," kata Hermanto.

    Baca juga: Ada Pembangunan di Pulau Reklamasi? Ini Reaksi Kepala Satpol PP

    Dalam pelaksanaan pembangunan jembatan Pulau C reklamasi tersebut pihaknya juga akan melibatkan warga setempat termasuk pada perencanaan yakni pengerukan untuk titik jembatannya saat ini sudah melibatkan banyak nelayan. "Kita libatkan masyarakat setempat dalam pembangunannya, termasuk paranelayan di sekitar sini," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.