KPID Jawa Barat Batasi 17 Lagu, Anto Hoed Soroti Kisruh RUU Musik

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasangan selebriti, Melly Goeslaw dan Anto Hoed menunjukkan album soundtrack AADC (Ada Apa Dengan Cinta) 2 di Jakarta, 20 April 2016. Mengulang sukses di AADC 1, Melly Goeslaw dan Anto Hoed kembali merilis 8 lagu. TEMPO/Nurdiansah

    Pasangan selebriti, Melly Goeslaw dan Anto Hoed menunjukkan album soundtrack AADC (Ada Apa Dengan Cinta) 2 di Jakarta, 20 April 2016. Mengulang sukses di AADC 1, Melly Goeslaw dan Anto Hoed kembali merilis 8 lagu. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta -Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta, Anto Hoed menyampaikan kebijakan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah alias KPID Jawa Barat membatasi 17 lagu berbahasa Inggris akan menimbulkan polemik.

    Hal ini mirip pro dan kontra yang muncul akibat rancangan undang-undang (RUU) permusikan. "Itu kan melempar bola panas pada RUU yang masih prematur," ujar Anto saat dihubungi, Rabu, 27 Februari 2019.

    Baca : KPID Jabar Batasi 17 Lagu, Institut Musik Jalanan Soroti Sinetron

    Menurut Anto Hoed, pada RUU Permusikan terdapat pihak yang tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya. Harusnya itu menjadi tugas dari legislatif tapi belum kelar sudah dipublikasikan. 

    "Dibaca oleh publik dan kacau jadinya," ungkap suami Melly Goeslaw tersebut. "Ada yang nggak ngerjaian PR dengan baik nih."
     
    Pentolan dari grup musik Potret ini mengatakan ada tahapan yang tidak dalam pembahasan RUU Permusikan. Sebuah aturan itu harus diuji berkali-kali. 
     
    "Saat diuji itu harus memenuhi syarat harus memenuhi syarat keadilan," paparnya.
     
    Kasus RUU musik, kata malah menimbulkan resistensi. Tekanan muncul dari berbagai kalangan termasuk dari kelompok indie. "Nanti ini  sama juga (pembatasan 17 lagu), akan bahaya  nih nanti kelompok indie bakalan marah," tutur dia.
     
    Suami penyanyi Melly Goeslaw ini menjelaskan bedanya cuma dalam lingkup kebijakan pembatasan lagu hanya di Jawa Barat. Ketakutan yang muncul yakni pemeritah daerah lain bakalan mengadopsi kebijakan pembatasan pemutaran lagu. 
     
    "Maksudnya (nanti) pemda di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah juga ikut-ikutan," demikian prediksi Anto. "Mereka lupa bahwa ada lubang lebih besar lagi yang sebenarnya jalan keluar itu yakni internet."
     
    Bangsa ini, tutur Anto sudah harus mulai belajar melihat sesuatu yang enak dan tidak enak. Kalau terlalu ditekan-tekan malah nanti kayak negara diktator. "Nggak boleh ini, nggak boleh itu. Padahal era kita era demokrasi," ungkapnya.

    Sebelumnya, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah atau KPID Jawa Barat mengeluarkan peraturan baru itu dalam surat edaran bernomor 480/215/IS/KPID-JABAR/II/2019 tertanggal 18 Februari 2019. 

    Simak pula :
    Dianggap Cabul, KPID Jawa Barat Batasi Jam Tayang 17 Lagu

    Dalam surat tersebut, KPID Jawa Barat menilai jika 17 lagu berbahasa Inggris itu masuk klasifikasi dewasa. Sehingga lagu atau video klip itu hanya boleh ditayangkan atau disiarkan lembaga penyiaran di wilayah itu mulai Pukul 22.00 sampai pukul 03.00 WIB. KPID menyebutnya sebagai slot waktu dewasa (D).

    Adapun 17 lagu yang dilarang oleh KPID Jawa Barat adalah lagu milik penyanyi Zayn Malik, Camila Cabello ft Pharrell W, The Killers, Ariana Grande, Marc E. Bassy, Ed Sheeran, Chris Brown ft Agnez Mo, Marron 5 Bruno Mars, Eamon, Camila Cabello ft Machine, Bruno Mars, 88rising, DJ Khaled ft Rihanna, Yellow Claw, dan Rita Ora.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.