Kasus Pencabulan Bocah di Pondok Aren, KPAI Sebut Pelaku Pedofil

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pencabulan anak. shutterstock.com

    Ilustrasi pencabulan anak. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI telah mendalami kasus pencabulan bocah yang dilakukan oleh Kamidun, 72 tahun. Kakek yang menjadi rentenir itu diduga melakukan pencabulan terhadap siswi sekolah dasar berusia 12 tahun di di Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan.

    Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty mengatakan lembaganya telah mendapatkan laporan pencabulan yang dilakukan Kamidun pada Senin, 25 Februari lalu. "Kami langsung selidiki," kata Sitti saat dihubungi Tempo, Kamis, 28 Februari 2019.

    Baca: Pencabulan Bocah SD, Polsek Ciledug Tangkap Rentenir Tua

    Menurut Sitti, Kamidun sudah dipastikan mengalami gangguan orientasi seksual. Kamidun disebut Sitti sebagai pedofil. Bahkan, Sitti menduga anak yang korban korban Kamidun lebih dari satu. "Polisi juga harus terus menyelidiki kasus ini," kata dia.

    Baca: Pencabulan Bocah SD, Begini Cerita Penangkapan Rentenir Tua

    Dugaan korban Kamidun tidak hanya satu karena kakak korban juga nyaris menjadi sasaran tersangka. "Tapi kakaknya korban berani melawan, sehingga Kamidun tidak berani mencabulinya," kata Sitti.

    Kepala Polsek Ciledug Tangerang Selatan Komisaris Supiyanto mengatakan pihaknya menangkap pelaku pencabulan bocah, Kamidun pada Jumat, 22 Februari 2019. Tersangka, kata dia, dijerat dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan Pasal 332 KUHP. “Siapapun yang membawa pergi seorang perempuan yang belum dewasa, tanpa dikehendaki orangtuanya atau walinya," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anwar Usman dan 8 Hakim Sidang MK dalam Gugatan Kubu Prabowo

    Mahkamah Konstitusi telah menunjuk Anwar Usman beserta 8 orang hakim untuk menangani sengketa pemilihan presiden 2019.