Sejarah PT Delta Djakarta, Perusahaan Bir Sejak Zaman Belanda

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Pabrik Bir. REUTERS/Thomas Mukoya

    Ilustrasi Pabrik Bir. REUTERS/Thomas Mukoya

    TEMPO.CO, Jakarta - Rencana Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menjual saham milik DKI di perusahaan bir PT Delta Djakarta terhambat. Surat mengenai rencana pelepasan saham itu belum direspons oleh DPRD DKI.

    Meski begitu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pembinaan Badan Usaha Milik Daerah (BP BUMD) DKI Jakarta Riyadi mengatakan proses pelepasan saham DKI di Delta Djakarta masih terus berjalan. Terakhir, Pemprov DKI telah menggabungkan kepemilikan saham yang selama ini terpecah atas nama Pemprov DKI Jakarta dan Badan Pengelola Investasi Penanaman Modal DKI Jakarta (BP IPM Jaya).

    Baca: Untung-Rugi DKI Jual Saham Bir Delta Djakarta

    "Diubah namanya dari BP IPM menjadi Pemda DKI supaya bisa dijual. Karena BP IPM-nya sudah enggak ada (dibubarkan)," kata Riyadi, Jumat, 8 Maret 2019.

    Dengan peleburan saham itu, kini pemda DKI memiliki 26,25 persen saham di Delta Djakarta. Dari jumlah saham yang dimiliki tersebut, setiap tahun DKI bisa mendapat keuntungan atau dividen sebesar Rp 38 miliar. Pada 2014, DKI sempat menerima keuntungan sebesar Rp 50,4 miliar.

    DKI diketahui telah memiliki saham di PT Delta Djakarta sejak 1970 di era Gubernur Ali Sadikin. Adapun asal muasal perusahaan bir ini adalah sebuah perusahaan asal Jerman, Archipel Brouwerij NV. Perusahaan ini berdiri di era zaman penjajahan Belanda.

    Baca: Saham DKI di Perusahaan Bir Bertambah, Ini Klarifikasi PT Delta

    Sekitar tahun 1940, pemerintahan Hindia Belanda mengambil alih perusahaan ini dan mengganti namanya menjadi NV De Oranje Brouwerij. Saat Indonesia dijajah Jepang, pabrikan bir ini ikut diambil alih. Pada 1945, saat Jepang minggat dan Eropa kembali, perusahaan asal muasal Delta ini kembali diambil Belanda.

    Di era nasionalisasi pada 1957, perusahaan ini diambil oleh negara. Pada 1964, kepemilikan perusahaan diserahkan ke pemerintah Jakarta. Namanya pun berganti menjadi PT Budjana Djaja.

    Baru pada 1970, perusahaan ini berganti nama menjadi PT Delta Djakarta di era Gubernur Ali Sadikin. Demi melakukan ekspansi, Delta Djakarta mulai go public dan tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 1984.

    Pabrikan bir ini kini menjadi salah satu anak usaha dari San Miguel Corporation, Filipina setelah perusahaan multinasional itu masuk pada 1990. Perusahaan itu juga yang memiliki saham mayoritas, yaitu sebesar 73,75 persen. 

    Saat ini, Delta Djakarta memproduksi sejumlah merek bir terkenal, seperti Anker Beer, Anker Stout, Kuda Putih dan Carlsberg Beer. Sebagian besar produksi didistribusikan di pasar lokal. Pabrikan bir ini ini terletak di Bekasi, Jawa Barat.

    INGE KLARA | IRSYAN HASYIM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.