Polisi Sebut Tindakan Kriminalitas Remaja Dipicu Narkoba

Reporter:
Editor:

Suseno

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapolres Jakarta Barat Komisaris Besar Hengki Haryadi usai meninjau lokasi ledakan di Mall Taman Anggrek, Jakarta Barat, Rabu, 20 Februari 2019. Tempo/M Yusuf Manurung

    Kapolres Jakarta Barat Komisaris Besar Hengki Haryadi usai meninjau lokasi ledakan di Mall Taman Anggrek, Jakarta Barat, Rabu, 20 Februari 2019. Tempo/M Yusuf Manurung

    TEMPO.CO, Jakarta - Kapolres Metro Jakarta Barat Komisaris Besar Hengki Haryadi mengatakan, tingkat kriminalitas di kalangan remaja memiliki hubungan kuat dengan penggunaan narkoba. Sebab dalam berbagai kasus, remaja-remaja yang terlibat kriminalitas itu hampir semuanya menggunakan narkoba.

    Baca: Narkoba Sasar Pelajar Depok dan Bogor, 5 Pengakuan Bos Pengedar

    Kasus kriminalitas yang melibatkan remaja itu antara lain pengeroyokan, pencurian, penganiayaan dan tawuran. “Para tersangka menggunakan narkoba dan obat daftar G --seperti tramadol-- sebelum beraksi,” kata Hengki dalam silaturahmi Forum Koordinasi Pimpinan Kota di Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Kamis, 14 Maret 2019.

    Menurut Hengki, sepanjang 2018 hingga Februari 2019 telah terjadi 141 kaus kejahatan jalanan. Dari semua tersangka yang ditangkap, sebanyak 122 di antaranya adalah remaja yang masih berstatus pelajar SD, SMP dan SMA.

    Atas temuan itu, Sekretaris Kota Administrasi Jakarta Barat Eldi Andi mengatakan perlu ada pengawasan di sekolah terkait penggunaan narkoba di kalangan pelajar. Salah satu bentuk pengawasannya adalah dengan melakukan tes urine secara berkala.

    Baca: BNNP DKI Sebut Tembakau Gorila Jadi Konsumsi Pelajar Jakarta

    Menurut Eldi, biaya yang dibutuhkan untuk tes narkoba ini nanti akan disampaikan kepada wali kota untuk dianggarkan. "Apa-apa yang diperlukan akan dianggarkan di 2020,” katanya. Namun tes urine itu tetap bisa dilakukan dalam waktu dekat meski dalam skala terbatas. "Mudah-mudahan di tingkat provinsi bisa ditindaklanjuti."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Maruf Amin di Debat Pilpres 2019 Soal Ancaman Stunting

    Dalam Debat Pilpres 2019 babak ketiga, Maruf Amin mengklaim angka prevalensi stunting turun 7 persen pada 2014 - 2019. Beginilah kondisi sebenarnya.