Geng Motor Belanja 'Cabe-cabean' Usai Membunuh, Kapolres Menangis

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Barat Komisaris Besar Hengki Haryadi (dua dari kiri) memegang salah satu senjata yang digunakan oleh anggota geng motor saat konferensi pers di kantornya, Selasa, 19 Februari 2019. Tempo/M Yusuf Manurung

    Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Barat Komisaris Besar Hengki Haryadi (dua dari kiri) memegang salah satu senjata yang digunakan oleh anggota geng motor saat konferensi pers di kantornya, Selasa, 19 Februari 2019. Tempo/M Yusuf Manurung

    TEMPO.CO, Jakarta - Kapolres Jakarta Barat Komisaris Besar Hengki Haryadi mengungkapkan fakta miris tentang perilaku anggota geng motor yang tak menyesal membunuh korbannya.

    Baca: Geng Motor Bunuh Pejalan Kaki di Daan Mogot, Begini Peristiwanya

    Hengki mengatakan, para pelaku yang rata-rata masih di bawah umur itu bahkan mencari 'cabe-cabean', istilah untuk gadis yang berprofesi sebagai pekerja seks.

    "Setelah merampok dan membunuh orang, tidak menyesal sama sekali. Yang terjadi justru mencari wanita, anak-anak kecil. Tawar-tawaran, lu harganya berapa? Lu berapa?," kata Hengki di Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Kamis, 14 Maret 2019.

    Temuan polisi tentang perilaku miris kawanan geng motor di Jakarta ini dipaparkan dalam Silaturahmi Forum Koordinasi Pimpinan Kota di Kantor Wali Kota Jakarta Barat. Acara yang mengundang kepala sekolah se-Jakarta Barat itu dilakukan untuk sosialisasi kejahatan jalanan dan narkoba. Juga hadir di sana Wali Kota Jakarta Barat Rustam Efendi serta Dandim Jakarta Barat Letnan Kolonel Jatmiko Adhi.

    "Ini fakta, saya pun menangis," ujar Hengki.  

    Hengki menjelaskan, fakta tentang tidak adanya penyesalan anggota geng motor setelah membunuh dan 'belanja cabe-cabean' didapat ketika polisi memeriksa akun media sosial milik mereka.

    Di hadapan peserta acara Silaturahmi, Hengki juga memutarkan video tawuran geng motor yang sempat diunggah secara live di akun instagram oleh pelaku. Dalam video itu terlihat, kedua kelompok saling lempar. Beberapa di antaranya peserta tawuran membawa senjata tajam seperti celurit.

    "Dia live di medsos untuk menunjukkan aktualisasi diri, menunjukkan eksistensi," kata Hengki.

    Februari lalu, Polres Metro Jakarta Barat mencatat ada 25 kelompok geng motor di wilayahnya. Delapan di antaranya ditangkap.

    Geng motor yang sudah ditangkap di antaranya basmol (barisan manusia oleng), swiss (sekitar wilayah slipi), garjok (garden pojok) dan israel (istana sekitar rel).

    Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh geng motor terjadi di Jalan Tanah Sereal Raya, Tambora, Jakarta Barat pada 20 Januari 2019. Peristiwa itu menewaskan Adam Ilham. Kasus pembunuhan juga terjadi di Tanjung Duren, Jakarta Barat 5 Februari 2019 dengan korban Ahmad Al Fandri.

    Baca: Pengakuan Geng Motor: Tak Ada Lawan, yang Ada di Tempat Disikat

    Hengki mengatakan, anggota geng motor sanggup menganiaya korban hingga tewas karena pengaruh dari obat-obatan. Hampir seluruh pelaku, ujar Hengki, memakai narkoba dan obat daftar G seperti tramadol. "Sehingga hilang rasa takutnya, empatinya, dan memiliki semangat berlebihan, dan akhirnya menimbulkan korban," kata dia pada 19 Februari 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.