Pengakuan Ramyadjie Priambodo Beli Mesin ATM buat Pelajari...

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Satu unit mesin ATM yang disita polisi dari apartemen Ramyadjie Priambodo, tersangka kasus skimming ATM. Foto: Istimewa

    Satu unit mesin ATM yang disita polisi dari apartemen Ramyadjie Priambodo, tersangka kasus skimming ATM. Foto: Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian Daerah Metro Jaya menyebutkan Ramyadjie Priambodo, tersangka pembobolan ATM sebuah bank ternama, yang juga kerabat jauh calon presiden Prabowo Subianto senjaga mmebeli 1 unit mesin ATM bekas.

    Ramyadjie Priambodo, 37 tahun mengaku membelinya untuk mempelajari kelemahan mesin tersebut.

    Baca : Alasan Ramyadjie Priambodo Kerabat Jauh Prabowo Membeli Mesin ATM

    "Dia beli mesin ATM untuk mempelajari kelemahan mesin tersebut," ujar Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Besar Argo Yuwono di kantornya Senin 18 Maret 2019.

    Argo mengatakan Ramyadjie mendapatkan mesin ATM tersebut dari membeli kepada salah seorang yang belum diketahui.. Saat ini penyidik sedang mendalami mekanisme skiming yang dilakukan Ramy

    Mesin ATM tersebut ditemukan saat kepolisian menggeledah apartemen Ramyadjie di Jakarta Selatan. Selain itu, polisi juga menyita sejumlah peralatan skimming, laptop televon genggam dalam penggeledahan tersebut.

    Menurut Argo, Ramyadjie Priambodo sudah beberapa kali menggencarkan aksinya. dia terpantau melakukan penarikan di sejumlah ATM di Jakarta Selatan. Kasus ini bermula dari laporan masyarakat yang diterima Polda Metro Jaya.

    Simak pula : 
    Kasus Pembobolan ATM, Ini Temuan di Apartemen Ramyadjie Priambodo

    Argo mengatakan dalam aksinya kata Argo, Ramyadjie Priambodo menutupi dirinya dengan masker atau kerudung agar tidak dikenali. "Pelaku menutupi diri dengan kerudung kayak perempuan agar di cctv terlihat seperti perempuan," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.