Polisi Sebut Unjuk Rasa Awak Mobil Tangki Pertamina Tak Berizin

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pekerja Awak Mobil Tanki (AMT) Pertamina melakukan aksi di depan Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 18 Maret 2019. Aksi ini merupakan lanjutan dari aksi yang pernah digelar pada Desember 2018 lalu dengan tuntutan yang sama yaitu penyelesaian upah lembur yang belum dibayarkan, pengangkatan kru AMT sebagai karyawan tetap dan pembatalan pemecatan sepihak. Dalam aksi kali ini para AMT membawa 2 buah mobil tanki sebagai bentuk protes. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Sejumlah pekerja Awak Mobil Tanki (AMT) Pertamina melakukan aksi di depan Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 18 Maret 2019. Aksi ini merupakan lanjutan dari aksi yang pernah digelar pada Desember 2018 lalu dengan tuntutan yang sama yaitu penyelesaian upah lembur yang belum dibayarkan, pengangkatan kru AMT sebagai karyawan tetap dan pembatalan pemecatan sepihak. Dalam aksi kali ini para AMT membawa 2 buah mobil tanki sebagai bentuk protes. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Polisi menyatakan Serikat Pekerja Awak Mobil Tangki (SPAMT) yang merampas mobil tangki Pertamina tidak memiliki izin saat berunjuk rasa di Istana Merdeka Senin lalu. 

    Baca: 5 Tersangka Kasus Mobil Tangki Pertamina Ditahan, Begini Perannya

    Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Argo Yuwono mengatakan bahwa Serikat Pekerja Awak Mobil Tangki (SPAMT) tidak menyampaikan pemberitahuan kepada polisi soal rencana demonstrasi. 

    "Dalam kegiatan unjuk rasa tersebut tidak ada pemberitahuan kepada pihak kepolisian," ujar Argo saat ditemui di Polda Metro Jaya, Selasa 19 Maret 2019. 

    Sejumlah anggota SPAMT pun kemudian tersandung dalam kasus hukum akibat merampas dan membawa dua mobil tangki ke kegiatan demo itu. 

    Argo mengatakan polisi telah menahan lima tersangka kasus perampasan mobil tangki Pertamina, yaitu NAS aktor intelektual dalam perampasan mobil tangki serta MR, TK, WH dan AM, yang berperan selaku eksekutor di lapangan. 

    Tersangka dihadirkan pada rilis kasus perampasan truk tangki Pertamina di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa, 19 Maret 2019. Polisi menangkap lima orang yang diduga melakukan perampasan dua mobil truk tangki Pertamina dalam demo Senin kemarin. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Polisi juga masih mencari 12 orang yang juga terlibat dalam perampasan mobil tangki Pertamina. Mereka adalah S, NS, A, SP, B, D, A, AF, DA, AR, T, dan AL. 

    Argo mengatakan motif perampasan mobil tangki tersebut untuk dijadikan sebagai peraga dalam unjuk rasa SPAMT dan mendapatkan perhatian dari pemerintah. Aspirasi ribuan SPAMT yang di-PHK tersebut tak kunjung diselesaikan oleh pemerintah. 

    Polisi menemukan kerusakan di salah satu mobil tangki yang dirampas oleh para peserta aksi unjuk rasa tersebut. "Salah satu mobil tangki itu ada yang rusak," ujarnya 

    Tindakan perampasan mobil tangki Pertamina tersebut, kata Argo, akan berdampak kepada masyarakat. Mulai dari transportasi hingga sektor ekonomi, lantaran pendistribusian BBM tersebut sudah berdasarkan waktu dan perencanaan tertentu.

    Baca: LBH Jakarta Kecam Polisi Dalam Kasus Buruh Mobil Tangki Pertamina

    Perampasan terjadi saat dua mobil tangki Pertamina itu akan mengirim biosolar tujuan SPBU area Tangerang hendak memasuki pintu Tol Ancol. Sekelompok orang tiba-tiba menghadang dan mengambil alih kemudi sambil membentak-bentak sopir mobil tangki. Dari GPS diketahui dua mobil tangki Pertamina itu dilarikan menuju Istana Merdeka.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Ini Tanda-Tanda Anda Terjangkit Cacar Monyet

    Cacar monyet atau monkey pox merupakan penyakit yang berasal dari sisi Barat Afrika. Penyakit ini menular melalui monyet, tikus Gambia, dan tupai.