Hari Air Sedunia, 4 Sungai Tangerang Tercemar Limbah Industri

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis lingkungan membentangkan spanduk di tepi sungai yang tercemar limbah pabrik saat aksi sweeping di Kali Cisadane, Tangerang, Banten, 23 Mei 2016. Aksi tersebut bertujuan untuk menjaga kali Cisadane dari bahaya limbah. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.

    Aktivis lingkungan membentangkan spanduk di tepi sungai yang tercemar limbah pabrik saat aksi sweeping di Kali Cisadane, Tangerang, Banten, 23 Mei 2016. Aksi tersebut bertujuan untuk menjaga kali Cisadane dari bahaya limbah. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.

    TEMPO.CO, Tangerang - Pada Hari Air Sedunia, Kabupaten Tangerang mengungkap empat sungai besar yang melintas di wilayahnya tercemar limbah industri dengan kategori ringan dan berat. Sungai tersebut merupakan salah satu sumber air bersih bagi penduduknya. 

    Baca: Hari Air Sedunia, Ini Alasan Aetra Bersihkan Sampah Cisadane

    Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang mengatakan empat sungai itu adalah Sungai Cisadane, Cimanceuri, Cidurian dan Cirarab. Pada empat sungai itu ditemukan sejumlah parameter yang melebihi ambang baku mutu, seperti Besi terlarut (Fe), kesadahan sebagai CaCO3, Khrom Hexavalent (Cr6+), Mangan terlarut (Mn), Nitrat (NO3-N), Nitrit (NO2-N) dan zat organik (KMNO4).

    Dinas LH menyatakan telah melakukan sejumlah langkah dalam meminimalisir dan mencegah pencemaran limbah industri yang mengkontaminasi lingkungan, air permukaan dan air bawah tanah. Pemerintah Kabupaten Tangerang menargetkan masyarakat harus mendapatkan akses air bersih.

    "Salah satunya adalah program pelestarian sumber daya air dalam upaya pengendalian pencemaran lingkungan terhadap sumber daya air," ujar Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang Budi Khumaedi dalam diskusi terkait Hari Air Sedunia di Living World Alam Sutera, Kamis 21 Maret 2019.

    Budi Khumaedi mengatakan program pengendalian pencemaran ini meliputi pengolahan sampah dan limbah yang erat kaitannya dengan sumber air permukaan. 

    Untuk itu, kata dia, Kabupaten Tangerang mencanangkan program pembuatan 250 ribu lubang biopori dalam waktu lima tahun ke depan hingga 2023. "Per tahun 50 ribu lubang biopori yang dibangun."

    Selain itu, kata Budi, pihaknya juga membuat 250 sumur resapan. Sumur resapan (infiltration well) adalah lubang sumur buatan yang digunakan untuk menampung air hujan atau aliran air permukaan yang akan meresap ke dalam tanah.

    Adapun upaya yang dilakukan dalam mengatasi pencemaran sungai Cisadane, Cimanceuri, Cidurian dan Cirarab, Budi mengatakan, pihaknya melakukan pengawasan dan pengetatan ijin pembuangan limbah.

    Pengetatan pengawasan dilakukan dengan mengawasi proses pembuangan limbah 250 sampai 300 perusahaan pertahun. "Jangan sampai membuang limbahnya produksi langsung ke sungai."

    Limbah industri di Kabupaten Tangerang tak hanya mencemari sumber air permukaan melainkan juga sumber air bawah tanah di Kabupaten Tangerang. Hal itu diperburuk dengan penggunaan air tanah yang masif oleh industri.

    Sumber air bawah tanah juga terancam karena sampai saat ini 70 persen dari 5.018 industri di wilayah itu menggunakan air tanah. Salah satu dampak dari penggunaan air tanah dalam jumlah banyak ini adalah instrusi air laut di beberapa wilayah di Kabupaten Tangerang semakin parah.

    Baca: Hari Air Sedunia, Jurus Anies Baswedan Soal Pasokan Air Bersih

    Untuk mencegah abrasi dan instrusi air laut, Kabupaten Tangerang melakukan rehabilitasi penanaman mangrove dengan target 10 hektar. "Saat ini sudah 5 hektar yang sudah dilakukan," kata Budi di sela acara diskusi Hari Air Sedunia. 

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.