Sama-sama Melaju di Rel, Simak Keunggulan MRT, LRT dan KRL

Reporter:
Editor:

Ali Anwar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memeriksa gerbong MRT yang tengah melakukan uji coba di Depo Lebak Bulus, Jakarta, Jumat, 8 Februari 2019. MRT Jakarta tahap I koridor Lebak Bulus-Bundaran HI ditargetkan mampu membawa 412 ribu penumpang per hari pada 2020.  TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas memeriksa gerbong MRT yang tengah melakukan uji coba di Depo Lebak Bulus, Jakarta, Jumat, 8 Februari 2019. MRT Jakarta tahap I koridor Lebak Bulus-Bundaran HI ditargetkan mampu membawa 412 ribu penumpang per hari pada 2020. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Euforia transportasi berbasis rel sedang terjadi di ibu kota. Penyebabnya, sudah beroperasi moda raya terpadu Ratangga pasca peresmian pada Ahad, 24 Maret 2019. Uji coba MRT Jakarta itu sukses memicu antusiasme tinggi dari publik.

    Baca juga: DPRD DKI Akan Kirim Surat Setuju Tarif MRT Sesuai Kalkulasi Anies

    Selain MRT, akan beroperasi pula moda rangkaian kereta ringan atau LRT Jakarta. Pemerintah DKI Jakarta membangunnya terpisah dari rangkaian LRT Jabodebek milik pemerintah pusat--juga sedang dikerjakan. Sedangkan yang sudah melaju lebih dulu adalah KRL Komuter Jabodetabek.

    Berikut ini perbandingan keunggulan di antara ketiganya:

    Perjalanan

    Dari periode uji coba yang sudah dan sedang dijalankan masing-masing, Tempo membandingkan perjalanan dengan kereta MRT dan LRT Jakarta.

    Saat Tempo mencoba menaiki MRT dan LRT pada saat diuji coba publik, laju kereta tersebut cukup stabil dan getaran cukup minim. Sedangkan, getaran pada KRL Jabodetabek sangat terasa.

    Laju KRL tidak stabil. Kereta KRL kerap bergoyang ke kiri atau kanan. Selain itu, mesin KRL berbunyi cukup kencang.

    Sedangkan, laju Ratangga dan kereta cepat LRT cukup stabil. Suara mesin teredam cukup baik. Selain itu, di dalam kereta terdapat fasilitas kamera pengintai atau CCTV. Namun, untuk bangku penumpang KRL lebih nyaman, karena telah dilapisi busa. Bangku penumpang MRT dan LRT masih mengguakan plastik.

    Fasilitas Stasiun

    Saat kereta berhenti, celah pintu kereta dengan peron di setiap stasiun MRT dan LRT hanya sekitar 7 senti meter. Pintu kereta dengan pintu peron otomatis berhadapan ketika kereta berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.

    Sedangkan celah KRL commuter dengan peron bisa mencapai 20-30 senti meter. Selain itu, ketepatan waktu kereta tidak stabil jika dibandingkan MRT dan LRT.

    Untuk fasilitas di setiap stasiun kereta tersebut pun cukup lengkap. Stasiun KRL, MRT dan MRT telah menyediakan berbagai fasilitas di antaranya tempat ibadah, toilet, tenant untuk mini market, lift, eskalator, CCTV dan lainnya. Namun, fasilitas MRT dan LRT jauh lebih baik.

    Tiket, Tarif, dan Rute Saat Ini

    Ketiga moda transportasi ini telah menggunakan tiket masuk elektronik dengan kartu single trip dan multi trip untuk akses masuk stasiun. Sistem ini pertama diterapkan pada 2013 oleh PT KCI untuk pengguna KRL commuter.

    Penerapan sistem tiket elektronik ini sempat menuai pro dan kontra dari penumpang KRL. Namun, akhirnya bisa diterima setelah sistem ini berjalan.

    MRT juga mengeluarkan dua kartu untuk warga yang mau menggunakan Ratangga. Dua kartu yang disediakan adalah kartu single trip dan multi trip khusus untuk MRT. Pembayaran elektronik MRT belum bisa menggunakan e-money dari bank lain, selain dua kartu yang dikeluarkan.

    Sedangkan, LRT belum mengeluarkan kartu elektronik untuk menaiki kereta ringan tersebut. Bagi warga yang ingin mencoba LRT cukup membeli kartu Jak Lingko.

    Tarif KRL Jabodetabek Rp 3 ribu per 25 kilometer pertama dan Rp 1.000 per 10 km pertama, berlaku kelipatan.

    Saat ini, KRL telah tersebar di Jabodetabek, Banten dan Cikarang. Jangkauan KRL telah mengular sepanjang 418,5 kilo meter di kawasan tersebut dengan total 79 stasiun.

    Sedangkan, MRT Jakarta baru terbentang sepanjang 16 kilometer dari Stasiun Lebak Bulus sampai Bundaran Hotel Indonesia. MRT Jakarta pada fase I mempunyai 13 stasiun di antaranya Stasiun  Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya dan Haji Nawi.

    Lalu Stasiun Blok A, Blok M, Sisingamangaraja, Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas dan Bundaran HI. Rencananya MRT Bakal dikembangkan hingga mencapai 231 kilometer. Tarif MRT disetujui Rp 10 ribu per 10 kilometer.

    LRT Jakarta terbentang sepanjang 5,8 kilometer dari kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, sampai Velodrome, Jakarta Timur. Rute LRT Kelapa Gading-Velodrome memiliki enam stasiun layang, yaitu Pegangsaan Dua, Boulevard Utara, Boulevard Selatan, Pulomas, Equestrian, dan Velodrome.

    Ke depan, panjang jalur LRT Jakarta bakal dikembangkan sampai 120 kilometer. Tarif LRT diajukan Rp 6.000 sepanjang rute Kelapa Gading-Velodrome.

    Headway dan Rangkaian Kereta

    Hideway KRL untuk KRL Jakarta-Bogor lima menit di jam sibuk. Sedangkan, lintas KRL Bekasi tujuh menit. Untuk hideway Ratangga ditargetkan setiap 5 menit sekali di jam sibuk dan 10 menit di luar jam sibuk.

    Namun, pada tahap pengoperasian pertama, MRT menargetkan hideway setiap 10 menit. Begitu pun juga LRT Jakarta menargetkan hideway yang sama.

    Adapun satu rangkaian KRL yang saat ini beroperasi berjumlah antara 8, 10 dan 12 rangkaian kereta. Sedangkan, MRT dan LRT hanya enam rangkaian dalam satu kereta.

    Target Penumpang

    Saat awal beroperasi, MRT Jakarta menargetkan penumpang sebanyak 65 ribu orang per hari. Bahkan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yakin jumlah penumpang MRT terus meningkat secara bertahap hingga 130 ribu orang per hari pada tahun depan.

    Satu rangkaian MRT bisa menampung 1.200-1.800 orang. Karena rutenya yang masih pendek, LRT Jakarta hanya menargetkan 14.255 orang per hari.

    Sedangkan, untuk jumlah penumpang KRL Jabodetabek terus meningkat. Pada 2015 sebanyak 257.530.159 orang dan menyentuh angka 336.714.273 orang pada 2018. Tahun ini ditarget penumpang KRL Jabodetabek bisa tembus 340.655.498 orang.

    Adapun rata-rata penumpang per hari pada 2015 mencapai 705.562 orang dan tembus 922.320 orang per hari pada 2018. Hingga Maret 2019 rata-rata penumpang telah bertambah lagi mencapai 968.928 orang per hari. "Kami targetkan bisa tembus mencapai satu juta penumpang per hari," kata juru bicara PT KCJ Anne Purba.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    KPK Berencana Menghapus Hasil Penyadapan 36 Perkara

    Terdapat mekanisme yang tak tegas mengenai penghapusan hasil penyadapan 36 penyelidikan yang dihentikan KPK.