Korban Kebakaran di Kolong Tol Pluit Ingin Bangun Ulang Hunian

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi kolong tol Pluit Kilometer 25 pasca kebakaran, Ahad, 31 Maret 2019. Tempo/M Yusuf Manurung

    Kondisi kolong tol Pluit Kilometer 25 pasca kebakaran, Ahad, 31 Maret 2019. Tempo/M Yusuf Manurung

    TEMPO.CO, Jakarta -Belum jelas apa yang akan dilakukan terhadap warga kolong jalan tol Pluit kilometer 25, korban kebakaran Sabtu 30 Maret 2019. Pemerintah DKI Jakarta lewat kelurahan setempat belum bisa memutuskan apakah mereka akan direlokasi atau tidak.

    Baca juga: 
    Kebakaran di Kolong Tol Pluit Diduga Akibat Korsleting Listrik

    Sekretaris Kelurahan Pejagalan, Mulyadi, menerangkan, tanah yang ditempati warga secara ilegal itu bukan milik DKI. Menurutnya, kepemilikan berada di PT Citra Marga Nusaphala Persada, operator jalan tol.

    Kebakaran di kolong Tol Pluit Kilometer 25, menyebabkan 200 keluarga kehilangan tempat tinggal, Ahad, 31 Maret 2019. Tempo/M Yusuf Manurung

    "Tapi pak Lurah sudah bersurat dua minggu yang lalu sebelum kejadian ini, karena tanah ini adalah aset dari PT CMNP, agar segera tindak lanjutnya bagaimana," kata Mulyadi di lokasi kebakaran, Minggu 31 Maret 2019.

    Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kelurahan Pejagalan Irwansyah senada dengan mengatakan pembongkaran bangunan membutuhkan rekomendasi dari PT CMNP. Untuk dia, Satpol PP masih menunggu keputusan dari perusahaan pembuat jalan tol tersebut.

    Kebakaran yang terjadi pada Sabtu pagi lalu menghanguskan sekitar 200 bangunan. Sebanyak 117 kepala keluarga atau 315 jiwa terpaksa mengungsi. Di antara mereka,  41 orang merupakan anak usia sekolah.

    Baca juga: 
    Kebakaran di Kolong Jalan Tol Pluit Dipadamkan Usai 2 Jam Membara

    Sehari setelah kebakaran, dua tenda pengungsian disediakan untuk para korban di sekitar lokasi kebakaran, Jalan Pluit Karang Karya 6, Jakarta Utara. Sejumlah bantuan makanan seperti beras dan mie instan terlihat di posko bencana.

    Seorang warga korban kebakaran, Cariwan, 29 tahun, mengaku telah tinggal di kolong jalan tol itu selama 13 tahun. Dia pun mengaku telah beberapa kali digusur namun tetap kembali lagi karena alasan nyaman. Dia berharap pemerintah dan CMNP mengizinkannya tetap tinggal dan membangu ulang lagi huniannya di kolong jalan tol itu.

    Petugas Pemadam Kebakaran memedamkan api dalam kebakaran di kolong jalan tol Jembatan Tiga-Pluit, pada Sabtu pagi, 30 Maret 2019. Foto/TMC Polda Metro Jaya

    "Kalau di pindahkan ke rusun, biaya bulanannya berat," kata dia yang mengaku bekerja sebagai sopir ojek online.

    Warga lain, Nengsih, 36 tahun mengatakan telah tinggal di kolong jalan Tol Pluit selama tiga tahun. Namun, orang tuanya sudah tinggal di lokasi itu selama 30 tahun. "Karena mamah lagi sakit, jadi saya pindah dari Bogor ke sini," kata dia.

    Ibu empat anak itu mengaku kehilangan seluruh hartanya karena kebakaran. Untuk itu dia berharap pemerintah memberikan bantuan serta tetap mengizinkan dia dan keluarganya tinggal di kolong.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.