Stasiun MRT Lebak Bulus Bocor, Ini Penjelasan Kepala Stasiun

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon penumpang mengantre untuk naik MRT di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Senin, 25 Maret 2019. Pemrov DKI Jakarta masih menggratiskan masyarakat untuk mencoba MRT, dan penerapan tiket akan dimulai pada 1 April 2019 mendatang. ANTARA

    Calon penumpang mengantre untuk naik MRT di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Senin, 25 Maret 2019. Pemrov DKI Jakarta masih menggratiskan masyarakat untuk mencoba MRT, dan penerapan tiket akan dimulai pada 1 April 2019 mendatang. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Pada hari pertama MRT berbayar, atap Stasiun MRT lebak Bulus bocor karena hujan deras, Senin 1 April 2019. Kepala Stasiun MRT Lebak Bulus Novrie Franciscus membenarkan adanya kebocoran itu.

    Baca: Stasiun MRT ASEAN Juga akan Terintegrasi dengan Transjakarta

    "Cuma air merembes sedikit," kata Novrie saat ditemui di Stasiun Lebak Bulus, Selasa, 2 April 2019.

    Ia mengatakan air yang bocor dari celah atap ke lantai stasiun tidak terlalu besar. Menurut dia, atap yang bocor tersebut pun langsung diperbaiki oleh kontraktor. "Kami langsung laporan ke kontraktornya dan sudah diperbaiki," ujarnya.

    Novrie menjelaskan seluruh kerusakan stasiun saat ini masih tanggung jawab kontraktor, yakni Wijaya Karya Joint Operation (TWJO) Sebabnya, seluruh konstruksi MRT yang saat ini telah rampung belum diserahterimakan kepada pemerintah. "Pekan ini rencananya akan diserahterimakan."

    Baca: Evaluasi Jumlah Penumpang MRT, Stasiun MRT Bundaran HI Paling Padat

    Petugas keamanan Stasiun Lebak Bulus mengatakan ada dua titik kebocoran di dalam stasiun MRT. Selain kebocoran, kata dia, air hujan juga tampias ke dalam stasiun. "Sebab, ada celah yang terbuka di pinggir stasiun. Jadi air yang tertiup angin masuk dari celah itu."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?