Hari Pertama MRT Berbayar, 15.500 Penumpang Naik di Lebak Bulus

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penumpang MRT Jakarta antre untuk keluar Stasiun Lebak Bulus karena gerbang pembayaran error, Selasa 2 April 2019. Tempo/Imam Hamdi

    Penumpang MRT Jakarta antre untuk keluar Stasiun Lebak Bulus karena gerbang pembayaran error, Selasa 2 April 2019. Tempo/Imam Hamdi

    TEMPO.CO, Jakarta - Pada hari pertama MRT berbayar, 1 April 2019, jumlah penumpang yang naik dari Stasiun Lebak Bulus mencapai 15.500 orang.   

    Baca: Tiket MRT Jakarta Diskon 50 Persen, Fraksi NasDem: Itu Muslihat

    Kepala Stasiun MRT Lebak Bulus Novrie Franciscus mengatakan jumlah penumpang yang naik Ratangga pada hari pertama berbayar itu nyaris sama dengan jumlah penumpang di hari kerja saat uji coba publik pada 12-24 Maret lalu.

    "Angka di hari pertama sudah cukup lumayan," kata Novrie saat ditemui di Stasiun Lebak Bulus, Selasa, 2 April 2019.

    Ia mengatakan angka 15.500 penumpang tercatat dari petugas pendataan penumpang masuk. Namun, data dari petugas tersebut berbeda dengan data sistem yang masuk secara otomatis, yakni 9 ribu penumpang. "Di sistem mungkin tidak terdata secara keseluruhan," ucapnya.

    Hingga saat ini, angka tertinggi jumlah penumpang yang masuk dari Stasiun Lebak Bulus mencapai 48 ribu penumpang. Jumlah tertinggi itu tercatat pada akhir pekan kemarin, saat MRT Jakarta menggratiskan penumpang yang mau naik Ratangga sebelum beroperasi secara komersial.

    "Sebagian besar yang datang pada akhir pekan kemarin memang bertujuan untuk piknik."

    Baca: Libur Isra Miraj, Penumpang MRT Kembali Membeludak

    Menurut dia, minat warga untuk MRT Jakarta saat ini cukup tinggi. Hal itu terlihat dari data penumpang yang terus meningkat selama uji coba kemarin. "Kami akan terus berikan pelayanan yang terbaik," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.