Banjir Berulang, Warga Pinggir Kali Minta Anies Lakukan Relokasi

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga berusaha membersihkan sampah yang terbawa aliran banjir di kawasan permukiman penduduk Cililitan Kecil, Jakarta, Jumat 26 April 2019. Air kiriman dari bendungan Katulampa hingga sungai Ciliwung meluap tersebut mengakibatkan sejumlah rumah tinggal di bantaran Sungai Ciliwung, Jakarta terendam air satu hingga dua meter. ANTARA FOTO/Risky Andrianto

    Seorang warga berusaha membersihkan sampah yang terbawa aliran banjir di kawasan permukiman penduduk Cililitan Kecil, Jakarta, Jumat 26 April 2019. Air kiriman dari bendungan Katulampa hingga sungai Ciliwung meluap tersebut mengakibatkan sejumlah rumah tinggal di bantaran Sungai Ciliwung, Jakarta terendam air satu hingga dua meter. ANTARA FOTO/Risky Andrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Warga RT 5 RW 5 Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramatjati, Jakarta Timur, berharap menjalani relokasi demi terbebas dari banjir luapan Kali Ciliwung. Banjir besar pekan lalu tak luput menerjang kawasan itu, menjadikannya yang kedua kali setelah tahun lalu.

    Baca:
    Banjir di Kramat Jati, Kebijakan Anies dan Ahok Diperbandingkan 

    "Sebab banjir sebesar ini biasanya terjadi lima tahun sekali," kata Rubiyanti, 54 tahun, warga Balekambang, Senin 29 April 2019.

    Pada Jumat dinihari lalu, banjir menenggelamkan rumah Rubiyanti dan puluhan tetangganya. Luapan Ciliwung hingga mencapai atap rumah. Imbasnya, atap dan jendela rumahnya jebol.

    Menurut Rubiyanti banjir yang menerjang kawasan rumahnya hampir sebesar yang terjadi setahun lalu. Ia dan warga lainnya tidak menyangka bahwa dampak banjir tahun ini bisa sampai sebesar tahun kemarin. 

    Seorang warga RT 04/RW 03, Pejaten Timur, Jakarta Selatan menunjukkan ketinggian air saat banjir datang dari luapan Kali Ciliwung di belakang rumahnya itu pada Jumat pagi, 26 April 2019. Tempo/ M Yusuf Manurung

    Kata Rubiyanti, banjir serupa juga terjadi pada 2013. Menurut dia, hingga empat tahun selanjutnya tidak pernah terjadi banjir besar. "Banjir besar lagi di 2018, karena itu siklus lima tahunan," ujarnya. "Tapi sekarang dua tahun berturut-turut banjir besar."

    Baca juga:
    Banjir Lagi, Warga Kampung Aer Tagih Janji Relokasi Anies

    Menurut dia, sebagian warga setempat bersedia menjalani relokasi kalau difasilitasi pemerintah daerah. Syaratnya, mereka tidak pindah ke rumah susun. "Maunya tanah kami dibeli dan kami beli lagi di tempat lain yang tidak banjir."

    Warga lainnya, Rista Dewi, 39 tahun, mengungkap yang sama. "Kalau cuma relokasi ke rusun, mending kami tetap tinggal di sini," ujar Rista yang tinggal bersama orang tuanya di bantaran Ciliwung sejak 1980.

    Jika tidak jadi membebaskan lahan warga, Rista berharap Pemerintah DKI segera menaturalisasi kawasan Ciliwung seperti yang pernah dijanjikan Gubernur Anies Baswedan. "Saya belum lihat ada naturalisasi di wilayah ini," ucapnya.

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat melihat kondisi balita yang menjadi korban banjir tanggul Jatipadang yang jebol di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu, 13 Desember 2017. Tempo/M JULNIS FIRMANSYAH

    Simak pula: 
    Ciliwung Meluap, Warga Cililitan Kecil Bandingkan Banjir 2013

    Berharap relokasi juga pernah disampaikan warga bantaran Kali Pulo di Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Lonjakan debit air membuat tanggul kali itu jebol dan jebol lagi. Warga setempat lalu teringat janji Anies melalui rapat RT dan RW pada Desember 2017.

    "Janji pak Anies waktu itu Februari 2018 (relokasi). Tapi enggak ada sampai jebol lagi, jebol lagi, dan saya bingung problemnya apa," kata Dani, 45 tahun, Rabu 3 April 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.