Jaga Saringan Air, Ahok Bagikan Kunci Tanggulangi Banjir Jakarta

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga bersama petugas Pemadam Kebakaran dan petugas UPK Badan Air bergotong royong membersihkan sisa lumpur pascabanjir yang melanda pemukiman di kawasan Rawajati, Jakarta Selatan, 28 April 2019. Banjir yang terjadi pada Jumat, 26 April 2019 Pagi, yang diakibatkan meluapnya air sungai Ciliwung tersebut mengakibatkan ratusan rumah di kawasan Rawajati terendam banjir dan sejumlah warga mengungsi ke tempat aman. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Warga bersama petugas Pemadam Kebakaran dan petugas UPK Badan Air bergotong royong membersihkan sisa lumpur pascabanjir yang melanda pemukiman di kawasan Rawajati, Jakarta Selatan, 28 April 2019. Banjir yang terjadi pada Jumat, 26 April 2019 Pagi, yang diakibatkan meluapnya air sungai Ciliwung tersebut mengakibatkan ratusan rumah di kawasan Rawajati terendam banjir dan sejumlah warga mengungsi ke tempat aman. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok membagikan rahasia penanggulangan banjir yang dilakukan di era pemerintahannya. Dia menanggapi banjir Jakarta karena meluapnya sejumlah sungai, selain intensitas hujan yang cukup tinggi, pada akhir April. 

    Baca: 
    Ahok Komentar Soal Banjir Jakarta, Apa Tanggapan Anies?

    Menurut Ahok, di era kepemimpinannya dia biasa menemukan banyak kayu ranting yang menutupi saringan air ketika hujan turun. Saringan air yang tertutup bakal menghambat air cepat surut.

    Karena itulah, dia memerintahkan alat berat selalu siap siaga menyisir ranting atau sampah di sekitaran saringan air. "Dan tentu pasukan oranye mesti keliling, pasukan biru juga mesti keliling," ucap Ahok, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa sore, 30 April 2019. 

    Ahok merujuk kepada petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) untuk pasukan oranye dan pekerja harian lepas Dinas Sumber Daya Air untuk pasukan biru. 

    Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki T. Purnama (Ahok) meninjau banjir di kawasan Jakarta Utara, Jumat (18/1). ahok.org

    Dia memperkirakan saringan air tersumbat adalah sebab banjir selain juga pompa air yang terlambat diaktifkan. Menurut Ahok, pompa air seharusnya aktif sebelum intensitas hujan semakin tinggi.

    Baca:
    Banjir di Kramat Jati, Warga Bandingkan Kebijakan Anies dari Ahok

    "Saya kira mungkin tergenang itu karena mungkin ada pompa yang telat, (tapi) saya tidak tahu," kata Ahok sambil menambahkan bahwa dirinya tak mengetahui persis penyebab banjir di sejumlah titik Jakarta akhir-akhir ini. Dia menyebut sudah tak lagi memimpin Ibu Kota selama dua tahun belakangan.

    Sebelumnya, Gubernur DKI Anies Baswedan mengungkap kelegaannya banjir tak sampai mengganggu Kota Jakarta. Dia menunjuk faktor muka laut yang turun dan kesigapan petugas pintu-pintu air mengalirkan air.

    Menurut Anies, masalah banjir yang harus dibenahi sebenarnya ada di hulu bukan di pesisir seperti Jakarta dan daerah lain. Namun menurut dia, media justru lebih menyoroti masalah banjir di Jakarta.

    Simak : 
    Banjir Jakarta Karena Bogor, Wakil Bupati: Ali Sadikin Juga Gitu

    "Cuma bedanya kalau di Jakarta fokus media tinggi. sehingga kampung apa pun kena (banjir) cepat naik (pemberitaannya). Padahal Bekasi, Tangerang Selatan mereka pun mengalami hal yang sama," kata Anies.

    Secara terpisah, sejumlah warga pinggiran kali di Jakarta mengungkap banjir besar yang sudah datang dua tahun berturut-turut belakangan ini. Mereka mengeluh karena menganggap banjir besar lima tahunan dan terjadi terakhir sebelum dua tahun ini pada 2013 lalu. Sebagai catatan, Ahok mewarisi kursi Gubernur Jakarta dari Joko Widodo sejak 2014 hingga 2017. 

      


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.