Tanjakan Maut Selarong Puncak Rawan, Begini Kontur Jalannya

Reporter:
Editor:

Ali Anwar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lokasi kecelakaan bus di Jalur Puncak, yaitu di tanjakan selarong, Desa Cibogo, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Kamis 2 Mei 2019. TEMPO/ADE RIDWAN

    Lokasi kecelakaan bus di Jalur Puncak, yaitu di tanjakan selarong, Desa Cibogo, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Kamis 2 Mei 2019. TEMPO/ADE RIDWAN

    TEMPO.CO, Bogor – Jalan Raya Puncak di ruas Megamendung, Bogor, dikenal sebagai tanjakan maut Selarong. Kepala Unit Kecelakaan Lalu Lintas Polres Bogor Inspektur Dua Ade Kamsa mengatakan tanjakan maut Selarong dikategorikan jalur rawan kecelakaan, karena kontur jalannya menanjak dan berkelok.

    Baca juga: Tanjakan Maut Selarong Puncak, Polisi: Bukan Kecelakaan Pertama

    Itu sebabnya, di sisi jalan tanjakan Selarong dibuatkan jalur penyelamat. “Tanjakannya agak curam, tak sedikit juga kejadian kecelakaan yang diakibatkan rem blong, memang daerah rawan,” kata Ade kepada Tempo, Kamis, 2 Mei 2019.

    Dengan adanya jalur penyelamat dengan kemiringan kurang lebih 45 derajat dari jalan, Ade mengatakan, sopir yang mobilnya yang mengalami rem blong bisa melajukan atau memundurkan  ke jalur tersebut untuk meminimalisir dampak kecelakaan.

    “Sebelumnya, sebuah bus dari arah Puncak menuju Jakarta sempat mengalami kecelakaan, dan melarikan kendaraannya ke sana (jalur penyelamat), tidak ada korban jiwa, hanya 15 orang luka,” kata Ade.

    Pantauan Tempo di lokasi, jalan sekitar 10 meter tersebut mulai menanjak dari simpang Gadog. Tanjakan yang terbilang cukup curam tersebut terbentang hingga berjarak sekitar 3 kilometer dari simpang Gadog.

    Meski jalan sempat datar saat melintasi jembatan Sungai Ciliwung, kemudian jalan kembali menanjak. Tak sedikit bus dan truk besar berjalan melambat saat melintasi jalan tersebut.

    Dari arah sebaliknya, laju kendaraan rata-rata 40 kilometer per jam karena jalannya yang menurun.

    Warga sekitar tanjakan Selarong, Ratih, 50 tahun, mengatakan selama satu tahunsudah ada enam pengemudi yang melarikan mobilnya ke jalur penyelamat tersebut. “Sejak ada ini mah (jalur penyelamat) tidak ada korban yang sampai meninggal, sebelumnya mah sering,” kata Ratih.

    Meski begitu, ujar Ratih, lokasi di jalur penyelamat saat malam hari gelap. Dua lampu penerangan jalan di sekitar jalur penyelamat dan satu warning light, tidak berfungsi. “Ya kalau malam gelap, cuma penerangan jalan, kalau di jalur penyelamat gelap,” kata Ratih.

    Sebelumnya, rombongan siswa SDN Karang Harjo, Cisoka, Tangerang, mengalami kecelakaan di lokasi saat hendak menuju tempat rekreasi Taman Wisata Matahari, Puncak pada Rabu, 1 Mei 2019.

    Bus Kalimaya bernomor polisi A-7351-FL tiba-tiba kehilangan kendali saat melintasi tanjakan Selarong. Bus berpenumpang 15 siswa didampingi orang tua dan guru tersebut tiba-tiba mundur.

    Baca juga: Tiga Kecelakaan Bus di Puncak, Pengamat Usul Aplikasi Ini

    Diduga hendak melarikan kendaraannya ke jalur penyelamat, mobil malah terbalik di tanjakan mau Selarong, karena laju kendaraan yang cepat saat mundur dan sopir membanting stir ke kanan. “Kami masih melakukan pemeriksaan terhadap supir bus,” kata Ade Kamsa.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.