Hari Pertama Diskon Tarif MRT Dihapus, Reaksi Penumpang?

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Antrean mengular terlihat di pintu keluar stasiun MRT Lebak Bulus arah ke Jalan Cipete Raya pada Rabu, 17 April 2019. Tempo/Adam Prireza

    Antrean mengular terlihat di pintu keluar stasiun MRT Lebak Bulus arah ke Jalan Cipete Raya pada Rabu, 17 April 2019. Tempo/Adam Prireza

    TEMPO.CO, Jakarta - Penumpang MRT Jakarta tak mempermasalahkan penyesuaian tarif MRT kembali ke normal setelah didiskon 50 persen sejak 1 April 2019. 

    Baca: Wakil Wali Kota Tangsel Yakin MRT Tembus Serpong, Ini Ide Rutenya

    Para penumpang menyatakan tarif itu masih sebanding dengan fasilitas dan kenyamanan yang disediakan sarana transportasi kereta bawah tanah itu.

    "Tarifnya masih terjangkau sesuai dengan kenyamanan dan kecepatan untuk sampai tujuan," kata Maryani yang ditemui di MRT Jakarta tujuan Lebak Bulus, Senin 13 Mei 2019.

    Sebelumnya, PT MRT Jakarta masih mengenakan tarif promo sebesar 50 persen dari tarif normal. Meskipun pada hari ini tarif normal mulai diberlakukan, penumpang menilai bahwa tarif  tersebut masih wajar dan sebanding dengan fasilitas yang diterima.

    "Harganya sebanding. Fasilitasnya terjamin. Cepat dan nyaman," kata Maryani yang kerap menggunakan sarana transportasi ini.

    Reaksi serupa diungkapkan Fadli, penumpang di Stasiun MRT Dukuh Atas. Dia mengatakan tarifnya setimpal dengan segala fasilitas yang didapat.

    Namun dia mengeluhkan masalah tiket yang belum lancar. "Setimpal, sih, harga sama fasilitasnya, hanya paling pelayanannya harus ditingkatkan lagi, terutama di mesin pembaca kartu yang terkadang masih lama," kata Fadli.

    Menurut dia, sempat terjadi gangguan pada pintu masuk otomatis yang terdapat di stasiun MRT.

    Baca: Diskon akan Berakhir, MRT Jakarta Sosialisasikan Tarif Normal

    Maryani juga menyampaikan bahwa penanganan kebersihan toilet stasiun MRT Jakarta masih kurang. "Toiletnya saya kira harus lebih sering dibersihkan. Untuk yang lain, sih, sudah oke," ujar Maryani. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.