Meninggal Karena Parkinson, Begini Bur Rasuanto Dikenang Keluarga

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bur Rasuanto (kanan) bersalaman dengan Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto, Jakarta, 1990. TEMPO/ Ali Said.

    Bur Rasuanto (kanan) bersalaman dengan Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto, Jakarta, 1990. TEMPO/ Ali Said.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepergian Bur Rasuanto, sastrawan dan eks wartawan, meninggalkan kenangan yang sangat dalam bagi Sati Rasuanto, anaknya. Bur, seorang penulis buku, cerpen, novel, hingga skenario film, meninggal di usianya yang ke-82 akibat penyakit parkinson yang menggerogoti syaraf di tubuhnya pada Rabu 15 Mei 2019.

    "Bagi kami anak-anaknya, beliau seperti Yin dan Yang, lengkap. Dia tak pernah mengenal sosok ayah, tapi berhasil menjadi ayah yang sangat baik," kata Sati saat Tempo hubungi lewat telepon, Jumat 17 Mei 2019.

    Sati mengenang Bur bukan semata sebagai bekas wartawan Perang Vietnam saat menjadi koresponden harian KAMI ataupun cerpenis yang andal. Tapi juga seorang ayah yang disiplin, tegas, namun berhati lembut bagi anak-anaknya. 

    Pendiri Endeavor Indonesia dan pernah bekerja untuk Bank Dunia ini menceritakan, ayahnya yang lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 6 April 1937, itu selalu mengajarkan anak-anaknya untuk hidup disiplin dengan teladan yang nyata. Ia mencontohkan salah satunya adalah ketika anak-anaknya lupa mematikan lampu sebelum berangkat sekolah, Bur akan mencabut bohlam tersebut.

    "Sehingga saat kami pulang sekolah ke kamar itu tidak ada bohlam. Beliau ingin mengajarkan kami menghargai sumber daya alam dengan menghemat listrik," tutur Sati.

    Cerita lainnya, lanjut dia, adalah ketika ketiga anaknya diharuskan bangun jam 02.00 WIB selama Ramadan. Mereka harus ikut membantu menyiapkan makanan untuk sahur. Tujuannya, kata Sati, Bur ingin mengajarkan anak-anaknya untuk tidak seenaknya menerima bantuan orang lain.

    Sebagai kepala keluarga, Bur selalu berusaha memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Tanpa gaji yang pasti, Bur yang semasa menjadi wartawan pernah ikut memimpin Majalah Tempo berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang pendidikan tinggi.

    Sebagai seorang suami, kata Sati, Bur juga tak pernah lupa mengajak istrinya berlibur saat ulang tahun pernikahan. "Rezeki itu sudah ada yang mengatur," seperti dikutip dari kata pengantar yang ditulis oleh Sati dalam buku ayahnya yang berjudul "Saya Berambisi Jadi Presiden".

    Kini Bur Rasuanto telah tiada. Dia menderita penyakit parkinson selama lebih dari tujuh tahun terakhir. Kondisi kesehatannya memburuk selama enam minggu ke belakang hingga mengembuskan nafas terakhirnya pada Rabu, 15 Mei 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Skenario Satu Arah Pada Arus Mudik 2019 di Tol Jakarta - Cikampek

    Penerapan satu arah ini dilakukan untuk melancarkan arus lalu lintas mudik 2019 dengan memanfaatkan jalur A dan jalur B jalan Tol Jakarta - Cikampek.