Gerindra Tolak Rekapitulasi Suara DKI: Data Jumlah Pemilih Aneh

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas KPU DKI Jakarta melakukan pendataan saat Rapat Pleno Terbuka Rekapitulasi dan Penetapan Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu 2019 Tingkat Provinsi DKI Jakarta di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis 9 Mei 2019. Rekapitulasi penghitungan ini mencakup wilayah Kepulauan Seribu, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Petugas KPU DKI Jakarta melakukan pendataan saat Rapat Pleno Terbuka Rekapitulasi dan Penetapan Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu 2019 Tingkat Provinsi DKI Jakarta di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis 9 Mei 2019. Rekapitulasi penghitungan ini mencakup wilayah Kepulauan Seribu, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta -Partai Gerindra DKI Jakarta menolak hasil rekapitulasi suara pemilihan presiden dan legislatif di Pemilu 2019 tingkat Provinsi DKI Jakarta. Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerindra DKI Syarif menyatakan banyak kejanggalan dalam rekapitulasi itu.

    Kejanggalan itu salah satunya tampak dari data jumlah pemilih yang dianggap tidak logis. Syarif menyebut data pengguna hak pilih itu sebagai jantung pemilihan umum (pemilu).

    Baca juga : BPN Sebut Jumlah DPK Penyebab Jokowi Kalahkan Prabowo di DKI Jakarta

    "Kesimpulan kami jelas dalam pleno disampaikan bahwa jantung yang menurut saya tidak sehat," kata Syarif di kantor Sekretariat Nasional (Seknas) Prabowo-Sandiaga, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 18 Mei 2019.

    Syarif mempermasalahkan jumlah daftar pemilih tambahan (DPTb) dan daftar pemilih khusus (DPK) yang diperoleh presiden, DPR, serta DPRD. Menurut Syarif, suara DPTb caleg seharusnya lebih kecil ketimbang DPTb capres. Begitu juga dengan suara DPK caleg yang harusnya lebih kecil dari capres.

    "Tapi ini kenapa linear? Ini kan aneh," ujar Syarif.

    Gerindra merekapitulasi perolehan suara pilpres dan pileg 2019 DKI berdasarkan hasil pleno tingkat provinsi atau disebut DC1. Dalam data itu terangkum pengguna DPTb capres mencapai 101.026 suara. Sementara DPTb DPR 33.990 suara dan DPTb DPRD 30.463 suara.

    Sementara jumlah pengguna DPK capres sebesar 221.536 suara, DPK DPR 221.554 suara, dan DPK DPRD 221.555 suara.

    Baca juga : Cerita Pleno Rekapitulasi Suara KPU DKI yang Banjir Interupsi

    "Suara DPK linear 221 ribu walaupun digit di belakangnya berbeda. DPK pileg seharusnya lebih kecil dari DPK presiden. Orang bodoh juga ngerti ini," jelas dia.

    Rapat pleno terbuka rekapitulasi suara dan penetapan perolehan suara pemilu DKI berakhir Jumat malam, 17 Mei 2019. Gerindra menolak hasil rekapitulasi itu lantaran jumlah pemilih caleg dianggap mencapai 90 persen atau lebih besar dari pemilih capres yang hanya berkisar 78 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hypermarket Giant dan Tiga Retail yang Tutup 2017 - 2019

    Hypermarket Giant akan menutup enam gerainya pada Juli 2019. Selain Giant, berikut gerai ritel yang yang bernasib sama dalam dua tahun terakhir.